spot_img
Minggu, Februari 15, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK UTARAMusim Hujan, Dikes KLU Antisipasi Lonjakan Diare dan DBD

Musim Hujan, Dikes KLU Antisipasi Lonjakan Diare dan DBD

Tanjung (suarantb.com) – Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Lombok Utara (KLU) mulai mengantisipasi munculnya gejala penyakit yang biasa terjadi pada musim hujan, seperti diare dan Demam Berdarah Dengue (DBD). Kendati kasus sudah meningkat di beberapa puskesmas, lonjakannya belum masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).

Hal tersebut dikatakan Kepala Dinkes KLU, dr. H. Lalu Bahrudin, M.Kes., kepada wartawan, Senin (19/1/2026). Ia menjelaskan, kecenderungan penyakit musiman pada awal tahun 2026 terjadi pada kasus demam biasa, diare dan DBD. Seiring kondisi hujan dan memicu genangan di titik-titik yang tidak didukung drainase baik, pihaknya mengimbau masyarakat untuk menjaga imun dengan mengkonsumsi vitamin dan suplemen.

“Dari pemantauan kawan-kawannya di lapangan, tren kasus dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, jumlah kejadian penyakit belum melampaui ambang kewaspadaan. Memang ada tren naik untuk diare dan demam berdarah, tapi alhamdulillah masih datar dan belum melebihi target atau indikator KLB,” papar Bahrudin.

Ia menjelaskan, pada kasus demam berdarah, laporan yang masuk sampai pekan lalu hanya terdapat dua kasus. Kedua kasus ini pun masih tergolong ringan, yakni pada kategori grade 1 dan grade 2.

“Gejala yang muncul berupa demam tinggi, tapi hasil pemeriksaan trombosit menunjukkan penurunan ringan dan tidak signifikan,” imbuhnya.

Bahrudin melanjutkan, angka kasus pada penyakit jenis ini menjadi atensi untuk diantisipasi agar tidak melonjak. Pihak Dinas melalui berbagai fasilitas baik Puskesmas, Posyandu maupun jejaring pelayanan paing bawah, menekankan pentingnya pencegahan di lingkungan masyarakat.

Dirinya juga menginstruksikan kepada seluruh pengelola puskesmas, agar memperkuat edukasi kepada masyarakat. Fokus utama diarahkan pada penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terutama di tingkat desa dan kecamatan.

Ia menyadari, pencegahan paling efektif adalah dengan menggugah kesadaran masyarakat untuk menjaga perilaku HBS. Edukasi dan advokasi kepada masyarakat terus digalang, serta diimbangi dengan pola makan dan mengkonsumsi makanan yang bergizi serta menyehatkan.

“Kewaspadaan tetap diperlukan, karena perubahan cuaca dapat memicu peningkatan kasus penyakit berbasis lingkungan. Syukurnya, kita masih aman, belum ada lonjakan di awal tahun,” demikian Bahrudin. (ari)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO