Mataram (suarantb.com) – Penulis asal Lombok Utara, Arianto Adipurwanto terpilih sebagai Emerging Writers di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2026. Arianto dan para finalis lain akan mengikuti serangkaian sesi pada festival sastra tahunan digelar mulai dari 21-25 Oktober 2026.
UWRF merupakan salah satu festival sastra terbesar di Asia Tenggara. Sejak terselenggara pada 2008, program Emerging Writers UWRF telah berhasil menjaring ratusan talenta sastra dari berbagai penjuru Indonesia.
Arianto mengaku, terlambat ikut festival ini. Rekan-rekan seangkatannya di komunitas Akarpohon sudah lebih dulu ikut. Arianto terpikirkan ikut serta sejak dua tahun terakhir. Meski sempat gagal, ia terus mencoba lagi.
“Saya baru kepikiran ikutan dua tahun terakhir sebelumnya gagal lolos. Tahun ini saya coba lagi dengan persiapan yang lebih matang,” ujarnya kepada Suara NTB, Rabu (21/1/2026).
Motivasi Arianto mengikuti UWRF ini, adalah keinginannya agar tetap terhubung dengan aktivitas sastra, termasuk pelaku-pelaku sastra. Baginya, keterhubungan itu penting mengingat saat ini, ia tidak tinggal di Lombok Utara. Sebab harus mengajar di salah satu sekolah di Bima.
Dengan kenyataan itu, akses untuk terhubung secara intens dengan komunitas maupun sastrawan di Lombok semakin berkurang. “Nah, saya lihat UWRF adalah kesempatan yang bisa saya manfaatkan,” jelasnya.
Arianto terpilih sebagai peserta di UWRF 2026, setelah karya berupa cerpen yang dikirim diterima tim kurasi. Arianto mengirim naskah cerpen miliknya yang belum dipublikasikan sebelumnya. Cerpen itu berjudul ‘Perempuan Ular’.
Selain cerpen ‘Perempuan Ular’, Arianto juga mengirim cerpen pendukung di antaranya ‘Pendea’ dan ‘Puq Bijoq Mencari Tingo’. Kedua cerpen tersebut sudah termuat di dalam kumpulan cerpen ‘Bugiali’.
“Dua cerpen pendukung ini saya pilih dengan sengaja karena dua cerpen ini adalah cerpen yang paling personal. Saya anggap sebagai cerpen yang benar-benar berbicara tentang diri saya. Dan, dua cerpen ini juga cukup sering dibaca dan kami bahas bersama teman-teman saat duduk-duduk di warung kopi,” tuturnya.
Selama beberapa bulan mendatang, Arianto dan para finalis lain akan mengikuti serangkaian sesi pendampingan dan lokakarya pada UWRF 2026. Puncaknya adalah penerbitan karya mereka dalam antologi tahunan yang akan diluncurkan secara resmi pada Festival 2026, yang berlangsung dari tanggal 21–25 Oktober 2026
Arianto menceritakan awal mula mencintai dunia sastra. Berawal dari hobi membaca awal dekat dengan karya-karya sastra. Dari hobi itu pula, keinginan untuk menulis mulai tumbuh.
Saat masih duduk di bangku SMA, ia akhirnya mendapat satu kesempatan setelah penulis bernama Lintang Sugianto mengadakan kelas menulis cerpen di Lombok Utara.
“Sejak itu saya merasa smakin termotivasi, padahal karya saya ndak bagus sih. Cuma biasa anak muda kan, merasa sudah menemukan jati diri dengan adanya kebetulan-kebetulan itu,” tutur Arianto.
Ia menjatuhkan pilihan untuk kuliah di FKIP Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pilihan jurusan ini, membuatnya semakin tertarik pada dunia tulis menulis. Ia lalu bergabung di Media Unram dan akhirnya berlabuh di Komunitas Akarpohon.
“Di Akarpohon saya mulai menemukan bacaan-bacaan yang bagus, lalu di Akarpohon pula saya menemukan perihal apa yang sebaiknya saya tulis,” kata Arianto.
Sampai saat ini, Arianto terus bergelut di dunia sastra. Dunia yang dulu, ia anggap untuk senang-senang saja, kini berubah menjadi sebuah kebutuhan baginya. “Apalagi sekarang saya pengajar dan guru bahasa dan sastra Indonesia di sekolah. Hal terakhir ini sebenarnya jadi motivasi yang cukup serius,” tandasnya. (sib)


