Mataram (suarantb.com) – Anggota DPRD Provinsi NTB), Muhamad Aminurlah sangat prihatin dengan kondisi jurusan hutan di daerah Kabupaten Bima yang sudah sangat parah. Jika tidak segera ditangani, maka kerusakan hutan tersebut memicu ancaman datangnya bencana alam banjir dan tanah longsor.
Oleh karena itu, politisi PAN yang akrab disapa Maman, menyerukan kepada masyarakat Bima untuk menyadari ancaman bencana ekologis tersebut. Salah satu dengan gerakan penanaman bibit pohon kemiri secara berkelanjutan sebagai langkah konkret memulihkan hutan yang kian kritis dan mencegah bencana banjir yang tiap tahun melanda.
“Gerakan ini harus dimulai sekarang. Kemarin sudah dialokasikan 19 ribu bibit kemiri untuk sejumlah wilayah di Bima, termasuk Parado, Labitu, dan Wawo. Musim hujan ini momentumnya,” ujar Maman pada Rabu (21/1/2026).
Anggota DPRD NTB dari Dapil NTB VI yang meliputi Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima ini menegaskan, kerusakan hutan di kawasan pegunungan dan daerah aliran sungai menjadi faktor utama banjir dan longsor.
“Mengembalikan fungsi hutan kemiri di setiap kawasan gundul adalah keharusan. Ini bukan sekadar menjaga ekologi, tapi juga masa depan ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Selain menjaga keseimbangan lingkungan, pohon kemiri juga memiliki nilai ekonomis tinggi. Biji kemiri bisa menjadi komoditas ekspor unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Dalam kunjungannya ke sejumlah desa di Bima, Maman menemukan pembabatan hutan mencapai 800 hektare. Ia menilai, jika kondisi ini dibiarkan, bencana akan terus berulang.
“Saya turun langsung ke gunung dan melihat sungai-sungai kita. Pembabatan hutan makin meluas, dan kalau dibiarkan, bencana akan terus datang,” ungkapnya.
Karena itu Maman mendorong program distribusi bibit kemiri secara berkala di seluruh desa rawan. Ia menekankan peran aktif masyarakat agar program ini bukan sekadar aksi simbolis, tetapi menjadi gerakan ekonomi hijau.
“Kita jaga alam, tapi juga dapat nilai tambah ekonomi dari hasilnya. Ini bisa jadi simbol kebangkitan ekologi sekaligus ekonomi masyarakat Bima,” katanya.
Dengan inisiatif ini, Maman berharap gerakan tanam kemiri massal dapat meningkatkan kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian hutan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di masa depan. (ndi)


