Bima (suarantb.com) – Angka stunting di Kabupaten Bima terus menunjukkan tren penurunan yang signifikan. Prevalensi stunting tercatat berada di angka 18 persen di tahun 2025. Capaian ini menurun tajam dibandingkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) per Juli 2025 yang masih berada di angka 23,5 persen, serta jauh lebih rendah dari angka awal yang pernah mencapai sekitar 36 persen.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Bima, Nurdin, S.Sos, menyampaikan bahwa penurunan tersebut merupakan hasil dari konsistensi intervensi yang dilakukan pemerintah daerah terhadap kelompok rentan stunting, terutama ibu hamil, balita, dan ibu menyusui.
“Dari sebelumnya 36 persen, turun menjadi 23 persen, dan sekarang sekitar 18 persen sekain per Desember 2025. Target 2026 diusahakan diangka target nasional, 14 persen,” kata Nurdin, Selasa (20/1/2026).
Ia menilai tren penurunan stunting di Kabupaten Bima, bergerak ke arah yang positif. Namun demikian, upaya tersebut tetap membutuhkan penguatan intervensi secara berkelanjutan, agar penurunan tidak mengalami stagnasi.
“Yang kita kejar sekarang adalah menjaga konsistensi penurunan itu. Jangan sampai berhenti di angka tertentu,” ujarnya.
Menurut Nurdin, penanganan stunting di Kabupaten Bima, dilakukan melalui pendekatan terintegrasi, mulai dari penguatan layanan kesehatan ibu dan anak, pendampingan keluarga berisiko stunting, hingga pemantauan tumbuh kembang balita secara rutin di tingkat desa.
Ia juga menekankan pentingnya intervensi sejak hulu, khususnya pada masa kehamilan dan 1.000 hari pertama kehidupan yang menjadi fase paling menentukan dalam pencegahan stunting jangka panjang.
“Sasaran utama kita tetap ibu hamil, balita, dan ibu menyusui. Intervensi harus tepat sasaran supaya dampaknya nyata,” katanya.
Selain intervensi langsung, Pemkab Bima juga terus mendorong peran aktif pemerintah desa serta memperkuat koordinasi lintas perangkat daerah. Sinergi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar program penurunan stunting dapat berjalan efektif hingga menjangkau wilayah terpencil.
Sebagai program pendukung, Nurdin menyebut program makan bergizi gratis (MBG) turut berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting. Program tersebut diharapkan dapat diarahkan secara tepat sasaran kepada masyarakat desa yang benar-benar tidak mampu.
“Dengan MBG, kita berharap risiko stunting ke depan bisa bantu ditekan, baik pada keluarga yang sudah terdampak maupun yang belum,” pungkasnya. (hir)


