Selong (suarantb.com) – Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kabupaten Lombok Timur (Lotim) menyambut baik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah nasional. Namun, untuk mengukur dampak nyata program tersebut terhadap perbaikan status gizi remaja, diperlukan data awal status gizi peserta didik sebelum intervensi.
Wakil Ketua Persagi Lombok Timur, Khaerul Hadi, saat ditemui di sela sosialisasi Gizi Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Selong, Rabu (21/1/2026), menyatakan bahwa program MBG memiliki potensi besar tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi remaja putri di sekolah, tetapi juga sebagai media edukasi.
Persagi Lotim katanya mencoba terus sosialisasi dan berikan edukasi kepada para calon generasi penerus bangsa. Edukasi dan perilaku sehat inilah yang akan menunjang Generasi Emas 2045.
Kabupaten Lombok Timur dinilai memiliki infrastruktur pendukung yang cukup matang. Saat ini, tercatat 134 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) Dikes. Dengan adanya MBG, pemenuhan gizi remaja diharapkan dapat lebih terjamin.
“MBG ini bukan hanya memberikan makanan, tapi di situ ada juga konteks bagaimana membangun ekonomi, edukasi, pendidikan, serta pemanfaatan potensi sumber daya alam lokal,” tambah Khaerul.
Namun, Persagi menekankan pentingnya memiliki data dasar untuk mengevaluasi keberhasilan program. Khaerul mengungkapkan kekhawatiran akan kesulitan mengukur perubahan status gizi jika tidak ada data awal. “Kami harap ada upaya lebih progresif dengan melakukan penilaian awal status gizi peserta. Kita perlu tahu di awal, mana yang status gizinya kurang, normal, atau lebih. Setelah satu tahun program berjalan, baru pengukuran antropometri (tinggi dan berat badan) ulang dilakukan untuk melihat sejauh mana perubahan terjadi,” paparnya.
Secara teknis, porsi dan menu yang disediakan SPPG telah mengikuti pedoman standar, yaitu memenuhi minimal 20-30,6 persen dari total kebutuhan gizi harian. Meski demikian, tanpa data pembanding dari kondisi awal, klaim perbaikan status gizi menjadi kurang terukur.
Oleh karena itu, Persagi Lombok Timur mendorong adanya asesmen status gizi secara komprehensif sebelum dan setelah pelaksanaan program MBG. Langkah ini dianggap krusial untuk memastikan program yang digulirkan secara nasional ini benar-benar efektif dan berdampak signifikan terhadap peningkatan kualitas gizi remaja, khususnya di Lombok Timur.
Kepala SMPN 1 Selong, Zainudin menjelaskan ia apresiasi dengan tinggi langkah Persagi memberikan edukasi kepada siswa. Tidak diinginkan ada siswa SMP yang mengalami kekurangan gizi.
Zainuddin berkeyakinan, ketika kondisi gizi siswa bagus, kesehatan bagus maka pikiran siswa dalam proses menempuh ilmu juga bagus. Sehingga masa depan siswa akan lebih bagus.
“Nantinya anak itu akan menjadi anak-anak yang kita harapkan baik dari segi emosionalnya, kognitifnya, karena penambahan gizi terus asupan gizi itu selalu, selalu diasupannya bagus,,” imbuhnya.
Zainuddin juga mendukung adanya program MBG untuk siawanya. Hanya saja tidak perlu diberikan setiap hari. “Kalau kami sih maunya jangan setiap hari, maunya cukup dua kali seminggu lah, supaya betul-betul gizinya itu kan yang diperhatikan,” imbuhnya. (rus)


