FILM It Was Just an Accident (2025), film terbaru garapan sutradara Iran, Jafar Panahi berhasil menyabet penghargaan tertinggi Palme d’Or di Festival Film Cannes ke-78 tahun 2025. Film yang dibuat tanpa izin pemerintah Iran ini menandai kembalinya Panahi ke layar lebar setelah ia keluar dari penjara.
Panahi sendiri mengaku bahwa jika ia tidak dipenjara Pemerintah Iran, maka ia tak akan melahirkan film ini. Film ini berangkat dari pengalaman Panahi dan para penyintas tahanan politik lainnya. Pengalaman penyiksaan yang dialami mereka di bawah kebengisan aparat di balik jeruji besi. Film ini lahir sebagai bentuk pembangkangan dan protes, mengingat film ini dibuat dengan dengan begitu banyak pelanggaran.
It Was Just an Accident bercerita tentang seorang mantan tahanan politik bernama Vahid (Vahid Mobasseri) yang suatu hari dengan “sebuah insiden” bertemu dengan seseorang yang ia yakini sebagai Eghbal (Ebrahim Azizi) “Si Kaki Palsu” seorang aparat yang kerap menyiksanya di penjara. Tak pikir panjang, Vahid pun menculik Eghbal untuk membalaskan dendamnya.
Namun permasalahan muncul ketika Vahid meragukan kebenaran apakah orang yang ia culik itu benar-benar Eghbal “Si Kaki Palsu.” Vahid pun menunda mengeksekusi (membunuh) Eghbal dan memilih untuk mengonfirmasi kebenaran dengan menemui sesama penyintas. Mantan para tahanan politik yang pernah merasakan kebengisan “Si Kaki Palsu”.
Dari sana, Vahid bertemu beberapa karakter lainnya seperti, Salar (George Hashem Zadeh), Shiva (Mariam Afshari), Golrokh (Hadis Pakbaten), Ali (Majid Panahi), dan Hamid (Mohamad Ali Elyasmehr). Durasi 103 menit film banyak dihabiskan dengan pergulatan para karakter mencari kebenaran Si Eghbal dan perdebatan mereka apakah harus membunuhnya. Dari sana penonton diajak untuk memecahkan misteri dan ikut mengikuti dilema yang dialami para karakter.
Perjalanan Panjang yang Dilematis
It Was Just an Accident tak perlu bantuan scoring yang menggelegar atau tampilan sinematografi yang mewah untuk bisa memikat penonton. Film ini kaya secara penceritaan. Para aktor berhasil menghadirkan narasi yang terasa padat, intim, dan emosional. Panahi berhasil mengeksekusi satu syarat penting penceritaan, yakni ia tahu apa yang ingin dia sampaikan.
Dalam perjalanan mengonfirmasi sosok “Si Kaki Palsu”, film ini tidak sekadar bergerak menuju jawaban, melainkan menjerumuskan para tokohnya ke dalam dilema yang kian rumit. Hal ini tercermin ketika tokoh Hamid sangat yakin bahwa orang yang mereka sekap itu adalah Eghbal. Hamid yang tersulut emosi ingin segera membunuh, namun yang lain tidak setuju dengan Hamid. Baik Havid, Goli, dan Shiva perlu meyakinkan diri mereka sendiri bahwa kebenaran tidak bisa diputuskan hanya oleh kemarahan dan ingatan yang rapuh.
Dilema lain muncul ketika anak dari pria yang mereka yakini sebagai “Eghbal” menghubunginya melalui telepon. Situasi kian genting saat diketahui sang istri harus segera dilarikan ke rumah sakit. Pada momen itu, Vahid, Shiva, Goli, Hamid, dan Ali dilanda kebimbangan batin yang mendalam. Apakah mereka harus menolong anak dari sosok yang mereka duga sebagai orang yang pernah menghancurkan hidup mereka.
Sisi kemanusiaan menjadi roda penggerak utama dalam cerita ini. Bahkan ketika di akhir film, sosok Eghbal telah terkonfirmasi dengan jelas, Vahid dan Shiva tetap berada dalam kebimbangan untuk bertindak. Mereka terjebak pada pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Apakah rasa sakit dan trauma yang mengendap bertahun-tahun di dalam diri mereka memang harus dibalas setimpal dengan menghabisi nyawa seseorang yang telah merenggut banyak hal dari mereka.
It Was Just an Accident mungkin menjadi salah satu film yang memiliki ending yang paling fenomenal di tahun 2025. Jika sebuah gambar punya seribu makna, adegan terakhir film ini menyiratkan begitu banyak pesan.
Kamera yang menyoroti punggung Vahid, diiringi derit sepatu “Si Kaki Palsu” yang menderap di telinga, terasa seperti penegasan bahwa trauma dan rasa sakit itu akan terus membayanginya. Sekalipun kata maaf telah ia terima dan dendam seolah telah terbalaskan. Karena, trauma dari kejahatan rezim mana yang bisa kau sembuhkan?
It Was Just an Accident layak ditonton karena keberaniannya mengangkat cerita dari pengalaman nyata seorang mantan tahanan politik yang hidup di berdampingan dengan trauma. Film ini sangat kuat dari sisi narasi penceritaan, dengan konflik yang dibangun perlahan tetapi konsisten menggiring penonton masuk ke dalam trauma, amarah, dan kebimbangan moral para karakternya. Pendekatannya yang minimalis, tetapi tetap dramatis memberi ruang bagi penonton untuk ikut merasakan dilema yang sama dengan para karakternya.
Namun, kekuatan naratif tersebut juga memiliki konsekuensi. Gaya penceritaan yang lebih mengandalkan dialog serta monolog panjang berpotensi terasa berat dan kurang dinamis. Terutama bagi penonton yang mengharapkan ritme cerita yang lebih cepat atau konflik yang lebih eksplisit. (Nurmita)
Judul Film: It Was Just an Accident
Sutradara: Jafar Panahi
Penulis Naskah: Jafar Panahi
Durasi: 1 jam 43 menit
Negara: Iran


