Mataram (suarantb.com) – Universitas Islam Al-Azhar (Unizar), perguruan tinggi swasta terkemuka di Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan reputasi akademik yang terus meningkat, kembali menunjukkan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang responsif terhadap dinamika zaman dengan menyelenggarakan Kuliah Umum bertema “From Campus to Career: Menyiapkan Diri Menjadi Profesional Siap Kerja”. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Teater Ahmad Firdaus Sukmono Universitas Islam Al-Azhar, pada Jumat (23/1/2026), mulai pukul 09.30 Wita hingga selesai.
Kuliah umum ini menghadirkan langsung Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, Ph.D., sebagai narasumber utama. Antusiasme peserta terlihat begitu tinggi, dengan ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang memadati gedung teater untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Turut hadir dalam kegiatan ini Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI, Indra, SH, MH, Ketua Yayasan Pesantren Luhur Al-Azhar Dr. Ir. H. Nanang Samodra KA, M.Sc, Ketua Senat Akademik Unizar, Rektor Unizar, para Wakil Rektor, Kepala Biro, Dekan dan pejabat struktural di lingkungan Unizar, serta para Rektor dari berbagai perguruan tinggi di Nusa Tenggara Barat, bersama tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Pesantren Luhur Al-Azhar Dr. Ir. H. Nanang Samodra KA, M.Sc., menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas kehadiran Menteri Ketenagakerjaan RI di lingkungan Unizar.
“Atas nama Yayasan Pesantren Luhur Al-Azhar, saya mengucapkan selamat datang dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Bapak Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, yang telah berkenan hadir dan akan berbagi pemikiran, pengalaman, serta perspektif strategis kepada sivitas akademika dan para pimpinan perguruan tinggi di NTB,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kehadiran Menteri Ketenagakerjaan RI bukan sekadar kehormatan bagi Unizar, tetapi juga menjadi penegasan pentingnya sinergi antara kampus dan dunia kerja.
“Hadirnya Bapak Menteri pada hari ini menegaskan bahwa kampus dan dunia kerja tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Keduanya harus saling menyapa, saling memahami, dan saling menyesuaikan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Nanang menyampaikan bahwa tema kuliah umum tersebut sangat relevan dengan tantangan ketenagakerjaan saat ini. Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga harus mampu mencetak lulusan yang adaptif, berkarakter, memiliki etos kerja, serta mampu terus belajar dan bertumbuh di tengah perubahan zaman.

Yayasan Pesantren Luhur Al-Azhar, lanjutnya, meyakini bahwa pendidikan tinggi harus membentuk manusia seutuhnya, yakni cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara moral. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam mewujudkan visi Universitas Islam Al-Azhar sebagai institusi yang melahirkan insan intelektual sekaligus insan yang membawa kemaslahatan bagi semesta alam, Rahmatan Lil ‘Alamin.
Kepada para mahasiswa, Nanang berpesan agar masa kuliah dimaknai sebagai ruang pembentukan diri, bukan sekadar ruang tunggu menuju dunia kerja.
“Apa yang kalian bangun hari ini—disiplin, kejujuran, kemampuan berkolaborasi, dan kemauan belajar—akan menentukan posisi kalian di masa depan,” pesannya.
Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Ketua Yayasan Pesantren Luhur Al-Azhar secara resmi membuka kuliah umum tersebut, seraya berharap kegiatan ini dapat memberikan gambaran yang jujur dan inspiratif tentang dunia kerja serta memperkuat sinergi antara kampus, pemerintah, dan industri.

Dalam pemaparannya, Prof. Yassierli mengajak mahasiswa untuk memahami potret ketenagakerjaan Indonesia saat ini yang tengah menghadapi tantangan besar akibat disrupsi global. Berdasarkan data ketenagakerjaan nasional, Indonesia memiliki lebih dari 218 juta penduduk usia kerja, dengan 154 juta di antaranya merupakan angkatan kerja. Meski demikian, tantangan pengangguran dan dominasi sektor informal masih menjadi persoalan serius.
Ia menegaskan bahwa dunia kerja tengah mengalami perubahan fundamental seiring pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), digitalisasi, serta transisi menuju ekonomi hijau dan berkelanjutan. Bahkan, jutaan pekerjaan diprediksi akan hilang atau tergantikan oleh teknologi pada 2030, namun di saat yang sama juga akan lahir berbagai jenis pekerjaan baru.
“Di tengah meningkatnya jumlah lulusan sarjana setiap tahun, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan ijazah. Yang dibutuhkan adalah keunggulan, keunikan, dan kemampuan adaptasi,” tegas Prof. Yassierli.
Ia juga menyoroti sejumlah tren ketenagakerjaan masa kini, seperti meningkatnya pekerja jarak jauh (remote dan borderless workers), berkembangnya gig economy, serta pergeseran sistem rekrutmen dari berbasis gelar menuju berbasis keterampilan (skills-based hiring). Dunia industri, menurutnya, kini semakin menghargai kemampuan nyata, pengalaman lapangan, serta kemauan untuk terus belajar.
Dalam era AI, Prof. Yassierli menekankan pentingnya keseimbangan antara kompetensi digital dan human skills. AI, kata dia, tidak akan bekerja optimal tanpa peran manusia. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan, empati, komunikasi, dan kolaborasi justru akan semakin bernilai di masa depan.

Tak hanya itu, Menteri Ketenagakerjaan RI juga mengajak mahasiswa untuk membangun growth mindset dan future mindset, yakni pola pikir yang adaptif, tangguh, dan berani menghadapi perubahan. Ia mencontohkan tokoh-tokoh dunia seperti BJ Habibie, Michael Jordan, hingga Steve Jobs sebagai figur yang sukses karena konsistensi, keberanian berinovasi, dan orientasi jangka panjang.
“Pekerjaan di masa depan sebagian besar bahkan belum ada hari ini. Maka yang perlu dipersiapkan adalah cara berpikir, kemauan belajar, dan mental menghadapi ketidakpastian,” ujarnya.
Kuliah umum ini juga menekankan pentingnya entrepreneurial dan innovative mindset sebagai bagian dari solusi transformasi ekonomi Indonesia. Mahasiswa didorong tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta nilai, peluang, dan lapangan kerja baru melalui inovasi dan kolaborasi lintas disiplin. (ron/*)


