Mataram (suarantb.com) – Pemerintah Kota Mataram bergerak cepat menangani abrasi di pinggir Pantai Ampenan. Salah satunya membangun break water atau pemecah gelombang. Pemecah gelombang akan dibangun oleh Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara I di tahun 2027.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Mataram, Lale Wediahning ditemui pada, Jumat (23/1) menerangkan, upaya jangka pendek untuk penanganan abrasi di Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan adalah membangun batu bolder. Batu bolder dibangun di tiga lokasi yakni, Lingkungan Bugis, Loang Baloq, dan Mapak melalui daftar penggunaan anggaran Dinas PUPR.
Sementara, Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara I juga akan membangun batu bolder di lokasi berbeda. “Kita bangun batu bolder di tiga lokasi. Nanti ada juga dari BWS membangun di lokasi yang berbeda,” terang Lale.
Batu bolder ini dinilai sangat efektif menahan gelombang. Terbukti kata Lale, pemukiman yang terdampak gelombang pasang di kawasan yang tidak dipasang penghalang tersebut.
Kendati demikian, pihaknya juga berpikir penanganan jangka panjang. BBWS Nusa Tenggara I memberikan lampu hijau untuk membangun pemecah gelombang atau break water di tahun 2027.
Lale menyebutkan, anggaran yang dibutuhkan untuk membangun pemecah gelombang senilai Rp240 miliar. “Nanti dibangun di beberapa titik berdasarkan kajian atau perhitungan BWS,” ujarnya.
Pemerintah pusat tidak bisa mengintervensi sembilan kilometer Pantai Ampenan. Ketersediaan anggaran yang terbatas menjadi kendala, sehingga dana Rp240 miliar diprediksi hanya mengakomodir empat lokasi saja.
Untuk desain atau model pemecah gelombang menjadi kewenangan dari BBWS. Akan tetapi, kondisi ini akan disesuaikan dengan kedalaman pantai dan lain sebagainya. Sebab, kedalaman pantai akan menyesuaikan atau berpengaruh terhadap volume. “Kalau bangun keseluruhan butuh anggarannya sampai triliunan. Alhamdulillah, pemecah gelombang dibangun di empat lokasi saja,” ujarnya.
Ahmad, warga Lingkungan Bugis mengharapkan penanganan jangka panjang dari pemerintah. Pasalnya, masyarakat selalu dibayangi oleh gelombang pasang setiap tahunnya. Aktifitas mereka terganggu dan barang berharga rusak dihantam gelombang. “Kalau bisa jangan terus seperti ini. Kita jadi ndak tenang kalau sudah musim barat seperti sekarang ini,” tuturnya. (cem)


