Mataram (suarantb.com) – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal turun langsung meninjau masyarakat yang terdampak banjir rob di Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Kamis (22/1/2026) malam.
Lengkap dengan jas hujannya, gubernur menyisir satu-satu rumah warga, sekaligus meninjau pesisir Pantai Ampenan yang pasang. Ikut mendampingi, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB Sadimin, ST., Kepala Dinas Sosial, Perempuan dan Perlindungan Anak Ahmad Masyhuri.
Banjir rob menerjang pesisir Kota Mataram sejak Rabu malam, 21 Januari 2026. Tidak hanya banjir rob, gelombang pasang laut juga menyebabkan abrasi yang merusak sedikitnya 18 rumah warga.
Berdasarkan pantauan Suara NTB, Gubernur tiba di lokasi kilang Pertamina pukul 21.30 Wita. Kepada warga Kelurahan Bintaro, Gubernur berjanji segera menuntaskan secara permanen masalah banjir rob yang kerap menerjang lokasi itu.
“Sehat-sehat, saling membantu. Kita akan cari solusi permanen,” ujarnya menyapa warga, Kamis, 22 Januari 2026.
Gubernur mengaku, pihaknya akan segera duduk bersama Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana untuk mencari solusi jangka panjang penanganan banjir rob yang merendam sebagian rumah warga. Untuk sementara, sebagai penyelesaian jangka pendek, Iqbal mengaku Pemkot Mataram akan memasang geobag di sekitar pesisir yang terdampak.
“Abrasinya terus menerus seperti ini. Besok akan gotong royong untuk memasang geobak, tapi itu penyelesaian temporer. Paling penting untuk jangka panjang,” katanya.
Sementara, untuk kebutuhan pokok masyarakat, Pemkot Mataram dikatakan telah menyalurkan bantuan logistik. Begitupun dengan pengadaan dapur umum dan posko darurat yang sudah disiapkan oleh Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram.
“Kita siap mendukung dari provinsi. Jangka pendek tidak masalah, logistik dan sebagainya. Setelahnya kita harus duduk untuk penyelesaian jangka panjang,” sambungnya.
Adapun saat ini, Pemprov NTB telah menetapkan tanggap darurat bencana per tanggal 19 Januari 2026. Adanya payung hukum itu, provinsi bisa menyalurkan bantuan yang berasal dari Belanja Tidak Terduga (BTT) senilai Rp16 miliar yang sudah tersedia dalam APBD 2026.
“Provinsi kita sudah menetapkan untuk seluruh kabupten/kota sudah kita tetapkan (tanggap darurat, red) karena semua kabupaten/kota yang terkena bencana, walaupun ada yang sifatnya masih siaga,” jelasnya.
Diketahui, banjir rob mulai terjadi sejak menjelang waktu Isya sekitar pukul 19.30 Wita dan mencapai puncaknya pada pukul 23.00 Wita. Air laut meluap ke permukiman warga, disertai hempasan ombak yang merusak bangunan rumah serta fasilitas di sekitar pesisir.
Kepala Lingkungan Bugis, Suherman, menjelaskan gelombang tinggi mulai terjadi sejak malam hari, sekitar pukul 20.00 Wita hingga 01.00 Wita, dengan tinggi gelombang diperkirakan mencapai 1,5 meter. Kondisi tersebut jauh lebih ekstrem dibanding hari-hari sebelumnya dan memicu hempasan kuat yang memperparah abrasi di sekitar permukiman warga.
“Malam-malam kami berjaga, dari jam delapan sampai jam satu. Gelombangnya besar sekali, tidak seperti hari-hari sebelumnya,” ujarnya.
Suherman menambahkan, enam rumah warga mengalami kerusakan terparah, dengan rincian tiga rumah hanyut dan tiga rumah lainnya rusak berat sehingga tidak lagi layak ditempati. Sejumlah rumah lain turut terdampak, namun sebagian masih dapat digunakan secara terbatas. “Tiga rumah sudah hanyut sama sekali, tiga lainnya rusak parah. Rumah lain terdampak, tapi masih bisa digunakan,” imbuhnya.
Sebagai langkah darurat, Pemprov NTB bersama Pemkot Mataram menyiapkan tenda pengungsian untuk menampung warga terdampak. Pemerintah juga menyiapkan skema penanganan lanjutan, termasuk opsi relokasi sementara sembari menunggu solusi permanen. (era)


