GELOMBANG pasang dan abrasi telah menjadi ancaman tahunan bagi warga pesisir Pantai Ampenan, Kota Mataram. Hampir setiap akhir hingga awal tahun, bencana alam ini datang tanpa diundang, menerjang pemukiman warga, merusak bangunan, dan menebar rasa cemas di tengah kehidupan masyarakat pesisir.
Ancaman itu kembali nyata pada Rabu malam (21/1/2026). Dentuman ombak terdengar menghantam daratan, menerjang rumah-rumah warga di sepanjang pesisir Kampung Bugis hingga Pondok Perasi. Puluhan rumah dan perahu nelayan rusak, sementara sebagian warga terpaksa mengungsi demi keselamatan.
Setiap memasuki akhir tahun hingga awal tahun, kekhawatiran menjadi perasaan yang akrab bagi warga pesisir Ampenan. Cuaca ekstrem yang memicu gelombang pasang dan abrasi terus berulang, sementara perlindungan pantai yang memadai belum sepenuhnya tersedia.
Pantauan Suara NTB, pascabencana banjir rob, terlihat deretan karung berisi pasir dipasang di depan rumah-rumah warga terdampak. Karung tersebut dijadikan tanggul darurat untuk menahan air laut agar tidak kembali masuk jika gelombang susulan terjadi. Di kawasan pesisir Kampung Bugis dan Pondok Perasi, aktivitas nelayan tampak sepi. Sejumlah perahu ditambatkan tepat di depan rumah warga karena lahan sandar yang sebelumnya ada telah terkikis abrasi. Beberapa warga terlihat membersihkan sisa puing kayu dan sampah yang terbawa air laut.
Suparman dan Nurmah duduk di depan rumah mereka pada Minggu (25/1/2026), memandang bangunan yang rusak akibat terjangan ombak. Sesekali pandangan mereka tertuju ke perahu-perahu yang terparkir rapat di depan rumah.
Suparman (50) menuturkan, selama puluhan tahun tinggal di pesisir Lingkungan Pondok Perasi, perubahan garis pantai sangat terasa. Sekitar sepuluh tahun lalu, jarak rumahnya dengan bibir pantai masih puluhan meter. Kini, jarak tersebut menyusut drastis dan hanya tersisa sekitar dua meter.
“Setiap tahun kami sudah merasakan. Mulai bulan Oktober sampai awal tahun, gelombang pasang datang menerjang,” ujarnya.
Sebagai nelayan sejak usia belasan tahun, Suparman mengaku pernah melaut hingga perairan Bali. Namun, seiring bertambahnya usia, ia memilih berhenti melaut dan beralih menjadi pedagang ikan. Meski demikian, penghasilannya tidak menentu karena sangat bergantung pada hasil tangkapan nelayan.
“Kalau cuaca buruk seperti sekarang, nelayan tidak ada yang melaut. Tidak ada ikan yang bisa dibeli dan dijual,” katanya.
Peristiwa gelombang pasang pada pekan lalu semakin menambah kecemasannya. Ia menilai, dampak abrasi dan banjir rob kali ini merupakan yang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan belasan rumah di Kampung Bugis hingga Pondok Perasi terdampak parah.
Sambil menggenggam tiang teras rumahnya, Suparman berharap kejadian serupa tidak kembali terulang. Ia sangat mengharapkan solusi jangka panjang dari pemerintah.
“Ini baru awal tahun 2026. Biasanya sampai bulan Maret itu paling parah, apalagi kalau angin barat. Kami takut kalau datang malam hari saat kami tidur bersama anak istri. Harapannya segera ada tanggul permanen,” ucapnya lirih.
Hal senada disampaikan Nurmah (60). Meski mengaku terbiasa dengan abrasi yang terjadi setiap tahun, banjir rob kali ini dirasakannya paling parah. Air laut menerjang rumahnya hingga menghanyutkan barang dagangan dan merusak bagian rumah.
“Paling parah sudah ini. Dagangan dan sejumlah uang saya hilang,” tuturnya.
Nurmah menceritakan, pada Rabu malam sekitar pukul 19.30 Wita, suasana berubah mencekam saat suara deburan ombak terdengar keras menghantam pagar rumah. Ia dan suaminya langsung terbangun dan berlari menyelamatkan diri.
Ia berharap pemerintah segera membangun tanggul permanen di sepanjang pesisir. Menurutnya, tanggul darurat dari karung pasir tidak mampu menahan gelombang besar.
“Kemarin sudah dipasang karung, tapi ombak terlalu besar. Harus ada tanggul yang kuat,” harapnya.
Berdasarkan data pemerintah kelurahan, banjir rob di Kelurahan Bintaro berdampak pada tiga lingkungan, yakni Kampung Bugis, Pondok Perasi, dan Bintaro Jaya. Sekitar 1.000 kepala keluarga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan buruh nelayan tinggal di kawasan tersebut. Dari jumlah itu, 20 KK di Lingkungan Bugis dan Pondok Perasi terdampak paling parah, dengan total 67 jiwa.
Sementara itu, Pemerintah Kota Mataram mulai menyiapkan penanganan jangka panjang abrasi di pesisir Pantai Ampenan. Salah satu rencana strategis adalah pembangunan breakwater atau pemecah gelombang oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I yang direncanakan pada tahun 2027.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram, Lale Wediahning, mengatakan upaya jangka pendek yang dilakukan pemerintah adalah pembangunan batu bolder di beberapa titik rawan abrasi.
“Batu bolder akan dibangun di tiga lokasi, yakni Lingkungan Bugis, Loang Baloq, dan Mapak melalui anggaran Dinas PUPR. Sementara BBWS juga akan membangun di lokasi berbeda,” terangnya.
Dengan berbagai upaya tersebut, warga pesisir Ampenan berharap ancaman gelombang pasang dan abrasi yang selama ini menjadi “tamu tahunan” dapat segera diminimalkan, sehingga mereka tidak lagi hidup dalam bayang-bayang ketakutan setiap musim cuaca ekstrem tiba. (pan)


