Mataram (suarantb.com) – Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) besutan Presiden Prabowo Subianto telah memberikan dampak nyata bagi peternak unggas lokal, khususnya di Nusa Tenggara Barat. Salah satu manfaat paling dirasakan adalah stabilnya penyerapan telur di pasar, yang berimbas langsung pada kestabilan harga dan meningkatnya optimisme peternak untuk mengembangkan usaha.
Ketua Perhimpunan Peternak Unggas Rakyat (Petarung) NTB, Ervin Tanaka di Mataram, Senin, 26 Januari 2026 mengatakan, sejak program MBG dijalankan oleh pemerintah, gejolak pasar telur yang sebelumnya kerap terjadi kini mulai berkurang. Permintaan yang konsisten membuat serapan produksi peternak menjadi lebih terjamin.
“Kalau manfaat MBG ke peternak lokal jelas dirasakan. Penyerapan telur sekarang jauh lebih stabil, tidak lagi bergejolak seperti sebelumnya,” ujar Ervin.
Ia menjelaskan, meningkatnya permintaan telur untuk kebutuhan MBG secara tidak langsung memperkuat pasar lokal. Meski sebagian besar peternak belum berhubungan langsung dengan pengelola MBG, suplai tetap terserap melalui pihak ketiga atau mitra yang selama ini telah menjalin kerja sama dengan peternak.
“Umumnya peternak lokal menyalurkan telur lewat mitra. Karena kalau langsung biasanya ada tempo pembayaran, sementara lewat pihak ketiga pembayarannya lebih cepat,” jelasnya.
Menurut Ervin, mitra-mitra tersebut kini menambah volume pengambilan telur karena juga menyuplai kebutuhan MBG. Jika sebelumnya pengambilan berkisar sekitar 100 tray setiap tiga hari, kini jumlahnya mengalami peningkatan.
Dari sisi harga, Ervin menegaskan kondisi juga relatif stabil. Saat ini harga telur di tingkat peternak berada di kisaran Rp50.000 hingga Rp52.000 per tray untuk ukuran sedang. Harga tersebut tidak mengalami lonjakan meskipun permintaan meningkat.
“Harganya cenderung stabil. Tidak serta-merta naik terus karena memang sudah ada pengaturan pemerintah terkait harga acuan,” katanya.
Dari sisi produksi, Ervin menyebutkan total produksi telur dari seluruh anggota peternak unggas lokal NTB dibawah Petarung saat ini mencapai sekitar 700 ribu hingga 800 ribu butir per hari. Produksi tersebut masih terserap sepenuhnya oleh pasar lokal.
“Yang jelas, produksi kita terserap dan stabil,” tegasnya.
Ia menambahkan, jumlah anggota peternak unggas lokal NTB saat ini berkisar 46 hingga 50 peternak, tersebar di berbagai wilayah di NTB. Sejak akhir tahun lalu, tren penambahan populasi ternak mulai terlihat, seiring meningkatnya keyakinan peternak terhadap prospek usaha telur.
“Sejak akhir tahun kemarin sudah terasa. Banyak peternak mulai menambah populasi, bahkan muncul peternak-peternak baru,” ungkap Ervin.
Dampak positif MBG ini juga mendorong peternak untuk lebih berani berinvestasi. Peternak yang memiliki modal mulai memperluas kandang dan menambah jumlah ternak demi meningkatkan produksi.
“Manfaat MBG ini benar-benar disyukuri peternak. Kami jadi lebih optimistis untuk mengembangkan usaha ke depan,” pungkas Ervin. (bul)


