Mataram (suarantb.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menghadirkan terobosan program beternak puyuh petelur dan ayam petelur dalam upaya pengentasan kemiskinan ekstrem. Terutama di desa-desa yang ditetapkan sebagai desa berdaya sebagai program unggulan Gubernur NTB, Lalu. Iqbal dan Wakil Gubernur Hj. Indah Damayanti Putri.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, Muhamad Riadi, S.P., M.Ec.Dev, program beternak puyuh petelur dan ayam petelur ini adalah salah satu cara yang dilakukan untuk mengelurakan masyarakat dari miskin ekstrem.
Muhammad Riadi pada Senin, 26 Januari 2026 ini mengatakan, dari dua program ini, yang sudah langsung action adalah program beternak puyuh yang memang dikonsep sejak tahun 2024, kemudian dianggarkan tahun 2025 akhir, dan dieksekusi.
Yaitu Kelompok Tani Ternak Maju Jaya, Desa Beriri Jarak, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur sebagai percontohan.
Riadi menjelaskan, pada kelompok ini, Pemprov NTB memberikan bantuan puyuh. Terdapat sebanyak 3.990 ekor dengan produksi harian rata-rata 35 tray telur. Dengan harga telur puyuh saat pencatatan sebesar Rp31.000 per tray, pendapatan kotor harian tercatat mencapai Rp1.085.000. Setelah dikurangi biaya produksi sekitar Rp800.000 per hari, kelompok memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp285.000 per hari atau setara Rp8.550.000 per bulan.
“Pendapatan bersih ini dibagi kepada anggota kelompok melalui skema kemitraan yang sudah disepakati bersama,” jelas Riadi.
Ia menerangkan, setiap tiga bulan sekali, dari keuntungan beternak kelompok, satu anggota kelompok akan mendapatkan 1.000 ekor puyuh siap produksi. Dengan pola tersebut, dalam kurun waktu 20 bulan, seluruh anggota kelompok dipastikan telah memiliki masing-masing 1.000 ekor puyuh produktif.
“Kalau sudah bisa mandiri beternak puyuh petelur, itu artinya, ia sudah keluar dari miskin ekstrem karena sudah bisa punya penghasilan,” jelas Riadi.
Riadi menambahkan, puncak produksi puyuh terjadi pada usia delapan bulan dengan potensi produksi mencapai 40 tray per hari. Pada fase ini, pendapatan kotor harian dapat meningkat menjadi Rp1.240.000, dengan keuntungan bersih sekitar Rp440.000 per hari. Dengan sistem pembagian hasil, setiap anggota kelompok diproyeksikan memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp110.000 per hari.
“Pola kemitraan ini kami rancang agar pendapatan peternak meningkat secara berkelanjutan dan benar-benar menjadi jalan keluar dari jerat kemiskinan,” tegasnya.
Nantinya, kelompok-kelompok peternak puyuh di masing-masing desa berdaya ini, oleh Pemprov NTB akan diberikan 4.000 ekor puyuh siap produksi untuk dikembangkan bersama.
Sementara itu, untuk program ayam petelur (layer), juga akan menyasar langsung rumah tangga miskin ekstrem. Setiap kepala keluarga akan diberikan 100 ekor ayam petelur tanpa kandang permanen, yang dapat dipelihara di sekitar rumah menggunakan ember atau sarana sederhana. Masyarakat hanya bertugas memberi pakan dan menjaga kebersihan, sementara telur akan dikelola oleh induk semang atau mitra usaha.
“Setiap hari ayam diberi pakan dan telurnya diambil. Masyarakat miskin fokus merawat ternak. Untuk hasilnya, nanti ada mitra yang akan kita libatkan. Dan kita juga akan melibatkan dokter hewan untuk mendampingi untuk memastikan Kesehatan lingkungan dan ternaknya,” ujar Riadi.
Program ini menargetkan pendapatan tambahan masyarakat miskin ekstrem sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan. Jika usaha berjalan baik dan berkembang, pemerintah akan menghubungkan peternak dengan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar usaha dapat diperluas dan lebih mandiri.
Lebih lanjut, produksi telur puyuh dan telur ayam ini diarahkan menjadi salah satu varian menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga memiliki pasar yang jelas dan
“Konsepnya cepat menghasilkan, karena telur kebutuhannya harian dan harganya relatif stabil. Ini langkah strategis agar masyarakat miskin ekstrem bisa segera bangkit,” pungkas Riadi. (bul)


