Praya (suarantb.com) – Jumlah penduduk miskin ekstrem di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) hingga tahun 2026 ini masih tersisa 0,72 persen atau sekitar 8 ribu jiwa dari 1,1 juta jiwa penduduk. Pemkab Loteng pun akan mulai fokus untuk menuntaskan penduduk miskin ekstrem tersebut guna mengejar target nol penduduk miskin ekstrem di akhir tahun 2029 mendatang.
Demikian diungkapkan Kepala Badan Perencanaan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Loteng H. Lalu Wiranata, S.I.P.,M.A., kepada Suara NTB, saat ditemui di kantornya, Selasa (27/1/2026).
Jika dilihat dari persentase, jumlah penduduk miskin ekstrem di Loteng termasuk yang terendah di NTB. Namun mengingat jumlah penduduk Loteng cukup besar, jadi secara absolud angkanya masih tinggi. Inilah yang akan menjadi fokus perhatian dalam empat tahun kedepan. Supaya bisa memenuhk target nol persen ditahun 2029 mendatang.
Selain dengan terus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah agar tetap positif sehingga bisa membuka lapangan kerja yang bisa diakses oleh keluarga miskin ekstrem tersebut, intervensi melalui program yang menyentuh langsung kepada keluarga miskin ekstrem tersebut juga tetap diupayakan. Misalnya, melalui program bantuan langsung yang bersipat produktif.
“Salah satu program yang sedang dipersiapkan yakni bantuan ayam ternak bagi keluarga miskin ekstrem. Program ini memang diperuntukan langsung bagi keluarga miskin ekstrem,” sebutnya.
Program tersebut sudah mulai diuji coba tahun 2025 lalu. Namun masih terbatas dengan sumber pembiyaan dari pihak ketiga atau non APBD. Dan, tahun ini programnya akan kembali diuji coba dengan intervensi APBD. Dengan jumlah keluarga sasaran lebih banyak lagi.
“Di APBD Loteng 2026 sudah dialokasikan anggaran sebesar Rp 300 juta untuk program uji coba bantuan ternak ayam bagi keluarga miskin ekstrem. Dengan sasaran sebanyak 50 keluarga. Di mana nantinya satu keluarga akan mendapat bantuan senilai Rp 6 juta,” jelasnya.
Tetapi bantuan yang diterima tidak dalam bentuk uang. Namun dalam bentuk barang, berupa kandang, ayam lengkap dengan pakan yang cukup hingga ayam tersebut berproduksi atau bertelur.
“Untuk jumlah ayam yang akan diterima disesuaikan dengan anggaranya. Harapanya, setidaknya setengah dari alokasi anggaran yang disiapkan itu untuk membeli ayam. Sehingga paling tidak satu keluarga nantinya akan mendapatkan antara 40 sampai 50 ekor ayam,” imbuh Wiranata.
Program tersebut rencananya akan mulai diluncurkan pada bulan Februari mendatang. Selama program berlangsung penerima bantuan tetap akan didampingi oleh dinas terkait. Untuk memastikan bantuan yang ada bisa dikelola dan dikembangkan dengan optimal.
Di akhir tahun nantinya program akan dievaluasi untuk melihat efektifitasnya. Jika sukses, maka program tersebut bisa diperluas lagi sasaranya ditahun-tahun mendatang. Tidak hanya ayam, tetapi juga bisa ternak lainnya. Sesuai dengan kondisi lingkungan serta kebutuhan yang ada. (kir)


