PEMERINTAH Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) masih melakukan verifikasi faktual terhadap desa-desa yang akan menerima intervensi Program Desa Berdaya tahun 2026. Verifikasi ini dilakukan untuk memastikan kesesuaian data serta potensi riil yang dimiliki desa sasaran.
Staf Ahli Gubernur NTB Bidang Perekonomian, Pembangunan, Sosial dan Kemasyarakatan Setda NTB, Dr. H. Yusron Hadi, ST., MUM., mengatakan bahwa pekan lalu tim telah turun langsung ke lapangan, khususnya ke Desa Berdaya Transformatif di Desa Tete Batu dan Desa Lendang Nangka Utara, Kabupaten Lombok Timur.
“Kami di lapangan saat ini sedang melakukan verifikasi faktual. Insya Allah paling lambat tanggal 15 Februari nanti seluruh proses verifikasi sudah rampung,” ujarnya kepada Suara NTB, Selasa (27/1/2026).
Yusron menjelaskan, pada tahun 2026 terdapat sebanyak 40 Desa Berdaya yang akan diintervensi oleh Pemprov NTB. Dalam proses verifikasi tersebut, pihaknya juga sempat berdialog langsung dengan masyarakat calon penerima manfaat Program Desa Berdaya Transformatif.
Menurutnya, masyarakat menyambut program ini dengan antusias dan berharap agar program tersebut segera dapat direalisasikan. “Mereka sangat senang dan berharap program ini segera bisa dinikmati oleh masyarakat. Mereka mendambakan adanya lapangan kerja serta pendapatan yang lebih baik dari kondisi sekarang,” jelasnya.
Selain itu, para pendamping desa juga menunjukkan komitmen tinggi dalam proses pendampingan. “Para pendamping juga dengan senang hati melakukan upaya pendampingan di desa,” tambah Yusron.
Ia menegaskan, verifikasi dilakukan secara cermat dengan mencocokkan data yang diterima dari Badan Pusat Statistik (BPS) dengan fakta yang ada di lapangan. Tidak hanya itu, para pendamping bersama masyarakat juga telah mengidentifikasi potensi ekonomi yang bisa dikembangkan di masing-masing desa.
“Di Lendang Nangka Utara misalnya, desa ini memiliki potensi budidaya nanas. Nanas tersebut bisa diolah menjadi berbagai produk seperti keripik nanas, serat nanas, dan produk turunan lainnya yang bisa dipasarkan ke sentra-sentra pemasaran,” paparnya.
Hal serupa juga ditemukan di Desa Tete Batu. Meski dikenal sebagai desa wisata, masih terdapat sekitar 400 kepala keluarga yang masuk kategori kemiskinan ekstrem dan membutuhkan pemberdayaan lebih lanjut.
“Mereka ini sebagian besar bergerak di sektor peternakan dan pertanian. Hasil produksi pertanian, peternakan, maupun perikanan diharapkan bisa memberikan kontribusi nyata bagi desa dan masyarakat sekitarnya,” ungkapnya.
Dengan adanya Program Desa Berdaya, Yusron berharap kesejahteraan masyarakat desa dapat meningkat secara berkelanjutan melalui pengembangan potensi lokal yang dimiliki masing-masing desa. (ham)


