spot_img
Kamis, Januari 29, 2026
spot_img
BerandaNTBKOTA MATARAMAlih Fungsi Lahan Pertanian di Mataram Terus Menyusut, Tersisa 1.178 Hektare

Alih Fungsi Lahan Pertanian di Mataram Terus Menyusut, Tersisa 1.178 Hektare

 

Mataram (suarantb.com) – Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram mencatat alih fungsi lahan pertanian di wilayah perkotaan terus terjadi dari tahun ke tahun. Dari total luas baku sawah (LBS) yang semula mencapai 1.485 hektare, kini tersisa hanya 1.178 hektare per Januari 2026.

Menyusutnya lahan pertanian tersebut dipicu oleh pesatnya pertumbuhan pembangunan di Kota Mataram. Sejumlah lahan sawah beralih fungsi menjadi berbagai fasilitas umum, mulai dari pembangunan jalan, drainase, perkantoran, sekolah, hingga kawasan perumahan.

Berdasarkan data Distan Kota Mataram, pada tahun 2024 luas baku sawah tercatat masih 1.485 hektare. Memasuki tahun 2025, luas tersebut berkurang 103 hektare menjadi 1.382 hektare. Selanjutnya, hingga Januari 2026, kembali terjadi penyusutan signifikan hingga tersisa 1.178 hektare atau berkurang sekitar 204 hektare.

Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Johari, menyebutkan bahwa laju alih fungsi lahan pada tahun 2025 tergolong lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut disebabkan banyaknya pembangunan infrastruktur dan bangunan yang telah mengantongi izin resmi.

“Pengurangan lahan ini terjadi karena sudah ada proses perizinan yang diterbitkan oleh dinas terkait. Setiap izin tentu melalui kajian, mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak,” ujarnya, Kamis (29/1/2026).

Ia menjelaskan, kewenangan pengurusan izin pengalihan fungsi lahan pertanian bukan berada di Dinas Pertanian, melainkan melalui mekanisme Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang dikeluarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram.

“Kalau sudah keluar PBG, kami tidak bisa melarang. Artinya, dinas teknis terkait sudah melakukan kajian sebelum memberikan rekomendasi pembangunan,” jelasnya.

Meski demikian, Johari menegaskan bahwa penyusutan lahan pertanian tidak serta-merta berdampak negatif terhadap produksi padi di Kota Mataram. Justru, pada tahun 2025 produksi padi mengalami peningkatan.

Berdasarkan catatan Distan, produksi padi pada tahun 2024 mencapai 23.078 ton, kemudian meningkat menjadi 24.411 ton pada tahun 2025 atau naik sebesar 1.333 ton dengan capaian sekitar 105,78 persen.

Peningkatan produksi tersebut, kata Johari, tidak terlepas dari peran aktif tim Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yang secara rutin melakukan pemantauan serta penanganan terhadap serangan OPT.

“Serangan hama seperti penggerek batang dan wereng yang sering muncul di musim hujan bisa segera ditangani. Tim POPT turun langsung memberikan obat-obatan, sehingga tidak mengganggu produksi,” ungkapnya.

Namun demikian, kondisi berbeda justru terjadi pada komoditas jagung. Produktivitas jagung di Kota Mataram mengalami penurunan yang cukup drastis. Dari produksi 1.141 ton pada tahun 2024, turun tajam menjadi hanya sekitar 36,37 ton pada periode 2025.

Johari menyebut, salah satu faktor utama penurunan tersebut adalah perubahan pola tanam petani yang kini lebih memilih menanam padi dibandingkan jagung. Hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan air yang lebih terjamin serta risiko gagal panen yang dinilai lebih kecil pada tanaman padi. “Petani melihat menanam padi lebih aman, air tersedia dan risikonya lebih minim dibanding jagung,” pungkasnya. (pan)



RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO