Mataram (suarantb.com) – Harga emas belakangan makin naik tak wajar, bahkan pengusaha menyebut kenaikan harga logam mulai setahun terakhir adalah kenaikan harga “bar-bar”. Dipicu oleh ketegangan global yang membuat akhirnya banyak orang di dunia ini memilih investasi yang paling aman.
Fenomena berinvestasi emas ini juga terasa di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Adalah Azka, setiap pagi sebelum beraktivitas, tak langsung membuka media sosial. Jarinya justru lebih dulu mengetuk layar ponsel, membuka aplikasi tabungan emas, memantau grafik harga yang naik turun.
Dari kebiasaan sederhana itulah, warga Kota Mataram ini perlahan mengubah tabungan recehnya menjadi aset bernilai puluhan juta rupiah.
Azka mulai berinvestasi emas sejak awal 2025 lalu. Awalnya, bukan karena pemahaman ekonomi yang rumit, melainkan obrolan santai dengan teman.
“Teman saya bilang, emas ini kok harganya naik terus. Ini kok menarik,” katanya menceritakan ikhwal ia mulai berinvestasi kecil di emas digital.
Rasa penasaran itu mendorongnya mencoba. Dibanding menabung konvensional yang menurutnya nilainya cenderung stagnan, emas dinilai lebih aman. Azka juga menghindari membeli emas fisik dalam bentuk emas batangan, maupun perhiasan, karena khawatir risiko kehilangan dan kriminalitas bisa saja terjadi. Pilihan pun jatuh pada tabungan emas berbasis aplikasi.
Dengan modal awal Rp100 ribu, Azka mulai mencicil menabung emas di aplikasi. Sedikit demi sedikit, investasi ditambahnya menjadi ratusan ribu. Ia konsisten menambah saldo emasnya. Saat itu, harga emas masih sekitar Rp16.000 per 0,01 gram.
“Masih murah sekali kalau dibandingkan sekarang. Harga emas di aplikasi Rp31.500 per 0,01 gram. Dan jualnya Rp30.390 per 0,01 gram ,” ujarnya, per Kamis siang, 29 Januari 2026.
Seiring waktu, grafik di aplikasi menunjukkan tren positif. Dalam setahun terakhir, kenaikan nilai emas yang disimpannya melonjak hingga lebih dari 25,4 persen. Dari modal jutaan rupiah, kini nilai tabungan emas Azka telah bertumbuh menjadi puluhan juta rupiah.
Kunci utamanya, kata Azka, adalah disiplin memantau pergerakan harga. Ia mengamati fluktuasi harian dan mengaitkannya dengan kondisi global.
“Kalau masih ada isu perang sebagai isu global, biasanya kelihatan dampaknya ke harga emas. Karena umumnya ketidakpastian dunia, orang lebih cenderung ingin menganamnkan asetnya ke barang berharga yang nilainya tidak jatuh. Yaitu emas. Kalau nyimpan uang, bisa saja nilai mata uangnya akan turun. Tapi kalau nyimpan emas, harganya tidak akan pernah turun drastis,” jelasnya.
Strateginya sederhana namun konsisten. Saat harga melonjak tinggi, ia memilih menahan bahkan menjual sebagian. Ketika harga kembali turun, ia membeli lagi.
“Kalau turun dalam, itu justru momen paling enak untuk beli. Tapi tidak pernah sampai turun dalam harga emas,” tambahnya.
Menurutnya, emas unggul karena likuid. Kapan pun dibutuhkan, aset tersebut bisa dijual dengan cepat dan hasilnya langsung masuk rekening. Bahkan, emas digital juga bisa digadaikan untuk kebutuhan mendesak.
Azka meyakini, selama ketidakpastian global masih terjadi, emas akan tetap menjadi pilihan investasi aman.
“Nilai uang bisa turun, barang elektronik pasti menyusut, tapi emas justru bisa bertahan bahkan naik. itu trend harga emas sejak zaman kenabian sampai sekarang. Selain itu, kalau investasi-investasi lain berpeluang kena pajak, kalau emas saat ini belum,” kelakarnya.
Bagi Azka, menabung emas bukan sekadar investasi, melainkan kebiasaan harian—membaca peluang dari grafik kecil di layar ponsel, yang perlahan membangun investasi lebih pasti. (bul)


