BUKU kumpulan puisi Kutu-Kutu Joni, karya Julia F. Gerhani Arungan menghadirkan puisi-puisi yang menggugat kemanusiaan melalui simbol tubuh, ingatan, dan ketimpangan sosial.
Sebelum dipublikasikan pada Februari 2025, manuskrip kumpulan puisi Kutu-Kutu Joni terpilih sebagai salah satu naskah menarik perhatian juri dalam Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2023 lalu.
Puisi dalam buku ini, tidak hanya menyajikan rangkaian puisi sebagai ekspresi estetika, tetapi juga mengeksplorasi emosi manusia seperti kekhawatiran dan harapan, serta pergulatan internal atau konflik batin yang dialami oleh individu.
Bahkan, pesan yang disampaikan seringkali bersifat kontemplatif atau mengajak pembaca untuk merenungkan lebih dalam aspek kehidupan sosial, seperti potret getir tentang kehidupan manusia yang kerap terpinggirkan, terabaikan, dan dilukai oleh sistem sosial yang timpang.
Sebagian besar puisi dalam buku setebal 68 halaman ini, mengangkat potret ruang-ruang aktivitas lingkungan pendidikan, rasa yang diungkapkan ialah emosional berupa kekecewaan, keprihatinan dan harapan terhadap sistem pendidikan. Menyentil pihak berwenang untuk membenahi sistem pendidikan di Indonesia.
Judul Kutu-Kutu Joni sejak awal sudah memancing tafsir. “Kutu” sebagai simbol hadir bukan semata sebagai parasit biologis, melainkan metafora bagi berbagai beban sosial: kemiskinan, orang kecil, trauma, stigma, dan luka yang menempel erat pada tubuh dan kehidupan manusia bernama “Joni” sebuah nama yang bisa dibaca sebagai representasi siapa saja. Dengan demikian, Joni bukan tokoh tunggal, melainkan figur kolektif dari mereka yang hidup di pinggiran.
Dalam puisi-puisinya, penyair kelahiran Lombok, NTB ini menulis dengan bahasa yang relatif sederhana tetapi sarat lapisan makna. Diksi yang digunakan tidak berlebihan, bahkan cenderung sunyi, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Pembaca diajak masuk ke ruang batin tokoh-tokoh yang terluka tanpa harus diteriaki oleh metafora yang “mewah”. Kesenyapan menjadi strategi estetik sekaligus sikap etis penyair dalam memandang penderitaan.
Tema sosial menjadi napas utama buku ini. Kemiskinan, relasi kuasa, tubuh yang dieksploitasi, serta ingatan traumatis muncul berulang sebagai potongan kehidupan sehari-hari. Julia tidak menggurui atau menyodorkan solusi, melainkan memperlihatkan realitas apa adanya, keras, getir, dan terkadang absurd. Puisi-puisi dalam Kutu-Kutu Joni bekerja seperti cermin retak yang memantulkan wajah masyarakat dengan segala ketidaksempurnaannya.
Selain itu, aspek tubuh mendapat perhatian khusus. Tubuh dalam puisi-puisi Julia sering kali menjadi medan konflik: tempat luka disimpan, rasa malu dipelihara, dan kekerasan dinormalisasi. Kutu yang menempel di tubuh Joni dapat dibaca sebagai jejak penindasan yang tidak mudah dihilangkan, bahkan ketika waktu terus berjalan.
Dari sisi struktur, puisi-puisi dalam buku ini tidak terpaku pada pola yang kaku. Kebebasan bentuk dimanfaatkan untuk memperkuat isi, seolah penyair sengaja menolak keteraturan yang terkesan leluasa sebagai bentuk perlawanan terhadap realitas yang juga tidak pernah benar-benar adil. Beberapa puisi terasa fragmentaris, tetapi justru mencerminkan cara ingatan dan trauma bekerja dalam kehidupan manusia.
Kutu-Kutu Joni layak dibaca oleh pembaca yang mencari puisi dengan keberpihakan sosial yang kuat. Buku ini tidak menawarkan keindahan dalam pengertian konvensional, melainkan kejujuran emosional dan keberanian untuk menyentuh luka. Julia F. Gerhani Arungan membuktikan bahwa puisi masih relevan sebagai medium kritik sosial dan ruang empati di tengah masyarakat yang semakin bising namun kerap abai.
Melalui buku ini, pembaca diajak tidak hanya menikmati puisi, tetapi juga merenung: tentang siapa “Joni” di sekitar kita, dan kutu-kutu apa saja yang diam-diam terus kita biarkan hidup. (Pandi Apriadi)
Data Buku:
Judul Buku: Kutu-Kutu Joni
Penulis: Julia F. Gerhani Arungan
Penerbit: DIVA Press
Halaman: 68
Ukuran: 14×20 cm
ISBN: 978-623-189-484-7


