Giri Menang (suarantb.com) – Dalam rangka upaya pencegahan paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme dan Terorisme di kalangan siswa, pihak Katim Cegah Wilayah Pulau Lombok Densus 88 AT Mabes Polri melaksanakan kegiatan sosialisasi di SMKN 1 Gerung Lombok Barat, Sabtu (31/1/2026). Pihak sekolah sendiri berupaya mencegah hal-hal negatif tersebut dengan melarang siswa membawa ponsel atau handphone (HP) ke sekolah.
Dalam kegiatan itu dihadiri oleh Kepala SMKN 1 Gerung, Hj. Erni Zuhara dan segenap guru serta siswa, Katim Cegah Wilayah Pulau Lombok Densus 88 AT Mabes Polri Ipda Hariadi serta Lurah Dasan Geres Umar Syarapudin. Sosialisasi yang disampaikan pihak Densus di halaman sekolah itu diikuti secara seksama oleh semua civitas sekolah. Mereka antusias mendapatkan informasi perihal penyusupan paham radikalisme yang bergeser melalui media sosial dan game online.
Kepala SMKN 1 Gerung, Hj. Erni Zuhara menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepedulian dari Densus 88 terhadap keberlangsungan keamanan negara secara umum. Khususnya terhadap anak-anak kalangan usia dini sampai remaja di sekolah, karena dengan kondisi psikologis mereka yang masih labil, pengaruh-pengaruh seperti kekerasan melalui permainan online sangat rawan memapar mereka.
“Mudah-mudahkan melalui sosialisasi ini anak-anak kami bisa memperoleh pencerahan dan pemahaman tentang dampak negatif dari permainan-permainan yang mungkin bagi mereka sesaat menyenangkan. Namun, secara psikologis bisa membentuk jiwa-jiwa yang penuh dengan kekerasan,” katanya.
Ia mengaku prihatin dengan dampak dari game online ini. Kegiatan ini baru kali pertama diadakan yang diinisiasi juga oleh Lurah Dasan Geres.
Upaya pencegahan juga dilakukan pihak sekolah. Pihak sekolah melarang siswa membawa HP ke sekolah sejak tiga tahun terakhir. Sebab dampak dari penggunaan HP yang tak terkontrol baik oleh orang tua maupun guru, membuat minat belajar anak menjadi rendah.
Di tempat yang sama, Katim Cegah Wilayah Pulau Lombok Densus 88 AT Mabes Polri Ipda Hariadi menyampaikan bahwa kegiatan ini salah dari program preventif yang telah berjalan selama tiga tahun terakhir. Sasarannya masuk sekolah-sekolah dan masyarakat dan OPD terkait. “Ini salah satu program pencegahan dini, kebijakan dari pimpinan kami,” imbuhnya.
Dampak upaya pencegahan ini pun besar, di mana Indonesia hat-trick untuk zero attack. Namun diakui di tengah masyarakat salah satu kendalanya akses informasi meluruskan hal-hal semacam ini. Dalam kegiatan ini pihaknya menggandeng pemangku wilayah atau instansi terkait untuk sama-sama edukasi masyarakat tentang bagaimana perkembangan jaringan teroris ini. “Yang saat ini sudah mulai aktif atau berimigrasi ke media sosial sebagai markasnya,” ujarnya.
Kalau dulu jaringan teror ini menggunakan metode tatap muka atau kajian tertutup, sekarang mereka terjun ke media sosial. “Ini terbukti November 2025 kemarin kami menyelamatkan 122 anak se-Indonesia, kategorinya masih anak SD, SMP, dan pelajar SMA juga,”sambungnya.
Hal ini membuktikan bahwa markas teror ini beralih ke medsos baik untuk perekrutan. Untuk ia mengajak semua orang tua di NTB untuk mengontrol anak-anaknya.
Lurah Dasan Geres Umar Syarapudin menambahkan bahwa kegiatan ini terlaksana dari silaturahmi tim Densus 88 ke kantor Lurah. Dengan harapan mencegah adanya paham-paham terlarang di wilayah setempat.
Setelah berkoordinasi dengan Pj Sekda meminta izin untun melaksanakan sosialisasi kepada semua sekolah baik tingkat SD, SMP, SMA dan Ponpes.Pihaknya bersama Densus 88 pun menggelar kegiatan ini. “Dengan harapan di wilayah kita nantinya tidak ada lagi paham-paham radikalisme, intoleran, terorisme, dan lainnya khususnya di wilayah kelurahan Dasan Geres,” harapnya. (her)



