PEMERINTAH Kelurahan Selagalas, Kecamatan Sandubaya, terus menggencarkan upaya pencegahan penyebaran demam berdarah dengue (DBD) dengan meningkatkan penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat. Langkah antisipasi ini dilakukan melalui peran kepala lingkungan dan kader di masing-masing wilayah, serta mendorong keterlibatan aktif warga dalam memberantas sarang nyamuk.
Lurah Selagalas, Yusrin, mengatakan hingga saat ini belum ada laporan kasus DBD baru di wilayahnya. Meski demikian, langkah pencegahan tetap dilakukan sejak dini guna meminimalkan risiko penyebaran penyakit tersebut.
“Untuk sementara belum ada laporan kasus DBD. Namun pencegahan tetap kami lakukan dengan mengingatkan masyarakat agar rutin membersihkan area yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).
Ia menjelaskan, setiap rumah tangga didorong menunjuk satu anggota keluarga sebagai petugas pemantau jentik nyamuk. Tugasnya adalah memeriksa secara berkala tempat-tempat rawan, seperti bak mandi, ember, pot bunga, dan genangan air lainnya.
“Setiap rumah kami dorong ada satu orang yang bertugas mengecek jentik nyamuk di tempat-tempat rawan,” katanya.
Menurut Yusrin, perubahan cuaca yang tidak menentu, kadang hujan, kadang panas menjadi faktor utama meningkatnya risiko kasus DBD. Kondisi tersebut kerap meninggalkan genangan air yang menjadi media ideal bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak.
“Cuaca yang tidak menentu ini sangat berpotensi memicu munculnya kasus DBD, karena sisa genangan air bisa menjadi tempat jentik berkembang,” jelasnya.
Sebagai langkah mitigasi secara masif, Pemerintah Kelurahan Selagalas juga rutin menggelar kegiatan gotong royong bersama masyarakat. Kegiatan ini difokuskan pada pembersihan selokan, saluran drainase, serta area-area lembap yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Selain itu, pihak kelurahan juga membagikan bubuk abate kepada setiap rumah tangga. Abate tersebut digunakan untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti dengan cara ditaburkan pada tempat penampungan air, seperti bak mandi dan tandon, dengan dosis 10 gram per 100 liter air. Penggunaan abate dinilai aman dan efektif karena residunya dapat mencegah jentik nyamuk kembali muncul selama beberapa minggu.
Yusrin menyebutkan, sepanjang tahun 2025, terdapat sekitar empat kasus DBD yang terindikasi di wilayah Kelurahan Selagalas. Namun, seluruh kasus tersebut telah ditangani dengan cepat melalui koordinasi dengan Puskesmas Cakranegara.
“Tahun lalu ada sekitar empat kasus, tetapi langsung kami tindak lanjuti bersama pihak puskesmas sehingga tidak meluas,” ungkapnya.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk terus menjaga kebersihan lingkungan, mengingat kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu dan mempercepat perkembangbiakan nyamuk. Warga diminta segera melaporkan apabila menemukan kasus atau gejala DBD, baik melalui kepala lingkungan, RT, maupun langsung ke puskesmas terdekat.
“Kunci pencegahan ada pada kebersihan lingkungan dan kepedulian bersama,” pungkasnya. (pan)


