Mataram (suarantb.com) – Tim Pengendali Inflasi Daerah Kota Mataram, perlu mengambil langkah cepat untuk menekan lonjakan harga. Pasalnya, inflasi Kota Mataram di bulan Januari mencapai 3,69 persen atau di atas inflasi rata-rata nasional 3,55 persen.
Kepala Bagian Ekonomi dan Sumber Daya Alam Setda Kota Mataram, Luh Putu Sari Savitri mengakui inflasi year on year bulan Januari Kota Mataram berada pada angka 3,69 persen. Kondisi inflasi ini berada di atas rata-rata nasional 3,55 persen.
“Kita pahami dulu definisi inflasi year on year yaitu, inflasi yang diukur dari perubahan harga barang dan jasa pada satu bulan dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya,” terang Wiwid sapaan akrabnya dikonfirmasi pada, Selasa (3/2/2026).
Penyebab utama tingginya inflasi jelasnya, pertama, tarif listrik pada bulan Januari 2025, terdapat kebijakan nasional diskon 50 persen. Sedangkan, pada Januari 2026 tidak ada diskon melainkan harga normal. Hal ini mengakibatkan inflasi. Kedua, geopolitik menyebabkan harga emas perhiasan meningkat. Ketiga, Badan Pangan Nasional menetapkan harga eceran tertinggi beras medium Rp12.500 di bulan Januari 2025. Sedangkan, di bulan Januari 2026, HET beras medium Rp13.500. “Banyak faktor yang menyebabkan inflasi bulan Januari menjadi tinggi,” paparnya.
Pihaknya telah menggelar rapat koordinasi dengan lintas sektor. Berdasarkan arahan dari Wakil Wali Kota Mataram, TGH. Mujiburrahman kata dia, seluruh OPD dan lintas sektor lainnya diminta mengintensifkan pemantauan dan pengawasan terhadap perkembangan harga serta ketersediaan pasokan komoditas. Mengoptimalkan berbagai bentuk intervensi pasar secara lebih intensif dan tepat sasaran melalui pasar rakyat dan gerakan pangan murah serta kolaborasi operasi pasar keliling.
Selain itu lanjut Wiwid, memastikan kelancaran distribusi pasokan pangan, sehingga tidak terjadi hambatan yang dapat memicu kenaikan harga. Tingkatkan edukasi kepada masyarakat melalu media, supaya tidak panik dalam memenuhi kebutuhan pokok. Terakhir, perluas jangkauan kolaborasi dengan berbagai pihak. “Mohon doa semoga ramadhan dan idul fitri nanti angka inflasi tetap terkendali,” harapnya.
Berdasarkan data BPS Kota Mataram inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya delapan indeks kelompok pengeluaran dari total sebelas indeks kelompok, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,47 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,15 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan
bahan bakar rumah tangga sebesar 12,10 persen; kelompok kesehatan sebesar 1,38 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,39 persen kelompok pendidikan sebesar 2,47 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,87 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 17,06 persen. Sedangkan penurunan indeks kelompok pengeluaran terjadi pada kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,41 persen; kelompok transportasi sebesar 0,46 persen; dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,61 persen. (cem)


