Bima (suarantb.com) – Cuaca ekstrem yang terjadi pada, Sabtu (7/2/2026) mengakibat tiga kecamatan terdampak banjir dan angin kencang. Dari kejadian itu, sejumlah 164 kepala keluarga terdampak, tetapi dipastikan tidak ada korban jiwa.
Banjir dan angin kencang melanda tiga kecamatan yakni, Kecamatan Tambora, Soromandi, dan Sape.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bima, Nurul Huda menjelaskan, cuaca ekstrem terjadi sejak pukul 13.06 Wita sampai sore hari. Hujan lebat disertai angin kencang ini mengakibatkan rumah warga rusak.

Ia merincikan, di Kecamatan Tambora, angin kencang merusak satu unit rumah warga di Desa Oi Panihi. Kerusakan terjadi pada bagian atap rumah batu. Satu KK dengan empat jiwa terdampak dan mengungsi sementara ke rumah keluarga terdekat. “Angin sudah berhenti dan kondisi saat ini aman, warga mengungsi secara mandiri,” kata Nurul Huda.
Sementara itu, banjir terjadi di Kecamatan Soromandi, tepatnya di Desa Kananta, akibat luapan sungai. Volume air ini berasal dari daerah penggunungan. Ketinggian air mencapai 30-80 sentimeter.
“Sebanyak 25 unit rumah di Dusun Talehe, Tuntu, dan Sowa terendam, dengan 25 KK atau 72 jiwa terdampak. Selain itu, talud sepanjang delapan meter rusak terbawa arus. Banjir sudah surut dan warga mulai membersihkan lumpur, tidak ada pengungsian,” paparnya.
Banjir juga melanda Kecamatan Sape. Di Desa Poja, genangan terjadi sekitar pukul 16.15 Wita akibat sungai dan drainase yang tidak mampu menampung debit air. Sebanyak 67 rumah warga dan satu masjid terendam serta satu unit dapur rumah warga roboh.
Ia menyebutkan, tercatat 67 KK atau 210 jiwa terdampak. “Pendataan lanjutan terhadap kerusakan lahan pertanian dan infrastruktur masih kami lakukan,” kata Nurul Huda.
Kebutuhan mendesak saat ini kata dia, meliputi bantuan tanggap darurat, logistik dan peralatan, serta penambahan beronjong di Desa Kananta untuk mencegah banjir berulang. “Kami tetap mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan bencana susulan,” tandasnya.
1.143 KK di Sumbawa Terdampak
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumbawa, mencatat sebanyak 1.143 kepala keluarga (KK) di delapan desa di Kecamatan Empang terdampak banjir dengan nilai kerugian ditaksir mencapai ratusan juta.
“Banjir terjadi akibat hujan deras yang terjadi di wilayah setempat selama 4 jam. Kami juga masih melakukan asesmen terpadu untuk memastikan kerusakan dan kerugian akibat bencana tersebut,” kata Kepala Pelaksana BPBD melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik (Darlog) Dr. Rusdianto, kepada Suara NTB, Minggu (8/2/2026).
Ia melanjutkan, banjir yang terjadi tersebut diakibatkan meluapnya air sungai yang berada di wilayah setempat. Selain itu, masifnya alih fungsi lahan untuk tanaman jagung menjadi faktor pendukung terjadinya banjir.
“Desa Empang bawah menjadi lokasi yang paling parah karena ada sekitar 350 KK yang terdampak dan ratusan unit rumah terendam di lokasi tersebut,” ucapnya.
Saat ini, tim reaksi cepat BPBD juga telah turun ke lapangan melakukan pengecekan serta menginventalisir total kerusakan akibat bencana tersebut. Data untuk sementara ini total kerugiannya ditaksir mencapai angka ratusan juta, karena banyak barang elektronik masyarakat yang rusak.
“Kami masih melakukan pendataan lebih lanjut di lapangan untuk memastikan kerugian akibat bencana tersebut. Kami juga bersyukur tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut,” tambahnya.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun di lapangan terdapat 8 desa yang terdampak. Di Desa Gapit ada sekitar 91 KK, Desa Lamenta 125 KK, Desa Pamanto 117 KK, Desa Jotang 49 KK, Desa Jotang Beru 65 KK, Desa Empang Atas 288 KK, Desa Empang Bawah 350 KK, dan Desa Bunga Eja 58 KK.
“Total masyarakat yang terdampak ada 1. 143 KK, sementara, dua desa lainnya, yakni Desa Ongko dan Desa Boal, kami belum menerima laporan masyarakat yang terdampak banjir,” tukasnya.
Bupati Turun Pantau Lokasi Bencana
Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, menilai bencana banjir yang terjadi di wilayah tersebut akibat kerusakan hutan dan alih fungsi lahan untuk tanaman jagung. Ia mengajak seluruh pihak, pemerintah kecamatan, desa, TNI-Polri hingga masyarakat, untuk menjaga kelestarian hutan dan menghentikan praktik perambahan.
“Faktor paling signifikan adalah tidak ada lagi pohon yang menahan air. Hutan kita sudah banyak yang gundul. Baru empat jam hujan saja sudah banjir seperti ini, apalagi kalau lebih lama, tentu akan lebih parah,” ujarnya.
Bupati melanjutkan, pemerintah daerah telah membentuk satgas bersama unsur Forkopimda dan Forkopimcam untuk melakukan pengawasan ketat di lapangan. Termasuk menekan adanya aktifitas pembukaan lahan baru di kawasan hutan.
“Kalau ada suara mesin potong atau aktivitas pembabatan pohon, tim langsung turun. Kita segel dan tindak. Kita ingin jaga hutan yang masih ada dan yang sudah kita tanam,” ujarnya.
Selain penanganan lingkungan, Pemkab Sumbawa juga fokus pada penanganan darurat bagi warga terdampak. Bantuan logistik diserahkan langsung kepada masyarakat, dan pemerintah menyiapkan kemungkinan pembangunan dapur umum serta posko jika kondisi memburuk.
“Mari kita jaga Empang dan Sumbawa untuk anak cucu kita. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi terutama dalam upaya menjaga hutan,” tukasnya. (hir/ils)


