Giri Menang (suarantb.com) – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Pemkab Lobar) bergerak cepat merespons bencana tanah longsor yang memutus akses utama di Desa Dopang, Kecamatan Gunungsari. Ruas jalan strategis yang menghubungkan Desa Mambalan dan Desa Jeringo tersebut dipastikan akan segera mendapat penanganan permanen melalui alokasi APBD Murni Tahun Anggaran 2026.
Kondisi jalur ini menjadi perhatian serius setelah hujan deras yang mengguyur pada Sabtu (7/2/2026) malam mengakibatkan badan jalan ambrol ke jurang sedalam 3 meter. Dampaknya, mobilitas masyarakat di wilayah lingkar Gunungsari lumpuh total bagi kendaraan roda empat, sementara pengendara roda dua harus ekstra waspada saat melintasi sisa aspal yang kian menyempit.
Ketua Komisi III DPRD Lobar, Fauzi, Senin (9/2/2026) menegaskan bahwa pihaknya telah mengawal ketersediaan anggaran untuk perbaikan jalur ini. Menurutnya, urgensi perbaikan jalan tersebut tidak bisa ditunda lagi karena menyangkut hajat hidup orang banyak dan akses ekonomi antar-desa.
“Saya tahu persis kondisi di lapangan karena ini merupakan kampung halaman saya sendiri. Terkait longsor yang memutus akses menuju Desa Jeringo dan Mambalan, kami sudah berkoordinasi dengan BPBD untuk turun langsung ke lokasi. Secara anggaran, saya sudah pastikan kembali kepada Kepala Dinas PU bahwa dana perbaikan sudah tersedia dan telah dibahas dalam anggaran murni 2026,” ujar Fauzi.
Ia menambahkan bahwa perencanaan teknis akan mulai digodok secara mendalam dalam waktu dekat. Mengingat lokasi longsor merupakan bekas kawasan galian C era 1990-an, kontur tanah di titik tersebut sangat labil dan memerlukan perlakuan khusus agar bencana serupa tidak terulang di masa depan.
Politisi PKB ini menggarisbawahi bahwa perbaikan jalan sepanjang kurang lebih 100 meter ini tidak bisa dilakukan secara standar. Kedekatan lokasi dengan tebing curam menuntut adanya konstruksi dinding penahan tanah atau talud yang jauh lebih kokoh dari biasanya. “Minggu depan, Komisi III akan turun ke lapangan bersama Dinas PUPRPKP untuk meninjau detail teknis perencanaan konstruksi yang dibutuhkan,” imbuh politisi asal Dopang itu.
Sementara itu, Kepala Desa Dopang, H. Harun Nurasyid, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap keselamatan warga. Saat ini, sisa badan jalan yang dapat dilalui hanya sekitar 1,7 meter. Kondisi ini memaksa warga yang hendak menuju Pasar Lilir atau desa tetangga untuk memutar jauh, yang biasanya cukup 5 menit kini menjadi 20 menit.
“Jalan aspal hanya sisa sedikit, sangat membahayakan warga terutama pada malam hari. Kami sudah memasang pagar pengaman agar tidak ada korban jiwa. Bahkan sempat ada kendaraan roda empat yang nyaris terperosok sebelum akhirnya ditolong warga. Kami berharap laporan tertulis yang kami sampaikan segera ditindaklanjuti dengan pengerjaan fisik,” pungkas Harun.
Pemda berharap masyarakat dapat bersabar selama proses administratif dan perencanaan berlangsung. Dengan masuknya proyek ini dalam skala prioritas 2026, diharapkan akses transportasi lingkar Dopang dapat kembali normal guna menunjang aktivitas ekonomi dan pendidikan masyarakat setempat. (her)



