spot_img
Selasa, Februari 10, 2026
spot_img
BerandaNTBKOTA MATARAMMataram Catat Angka Stunting Terendah di NTB

Mataram Catat Angka Stunting Terendah di NTB

Mataram (suarantb.com) – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kota Mataram mencatat angka stunting di daerah tersebut per Desember 2025 mencapai 6,57 persen atau sekitar 1.100 anak. Capaian ini menempatkan Kota Mataram sebagai daerah dengan angka stunting terendah dari 10 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Secara keseluruhan, berdasarkan data konsolidasi Pemerintah Provinsi NTB per Desember 2025, prevalensi stunting di NTB tercatat 13,39 persen atau 51.809 kasus dari total 387.065 balita. Angka tersebut dinilai sangat positif karena lebih rendah dari rata-rata nasional sebesar 18,8 persen serta telah melampaui target NTB tahun 2025 yang ditetapkan sebesar 21,7 persen.

Adapun capaian penanganan stunting per kabupaten/kota di NTB berdasarkan laporan gizi melalui aplikasi SigiziKesga Kementerian Kesehatan RI tahun 2026, yakni Lombok Barat 9,58 persen, Lombok Tengah 9,99 persen, Lombok Timur 22,39 persen, Sumbawa 10,70 persen, Dompu 12,61 persen, Bima 12,22 persen, Sumbawa Barat 7,10 persen, Lombok Utara 14,18 persen, Kota Mataram 6,57 persen, dan Kota Bima 9,49 persen.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP2KB Kota Mataram, H. Muhammad Carnoto, mengatakan berdasarkan data yang dirilis Pemerintah Provinsi NTB, Kota Mataram hanya mencatat empat kasus stunting baru atau sekitar 0,001 persen.

“Daerah lain melihat ratusan kasus baru, sementara kita paling kecil se-NTB,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).

Carnoto menegaskan DP2KB berkomitmen untuk terus menekan angka stunting di Kota Mataram agar mencapai target 5 persen. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah mengidentifikasi Keluarga Berisiko Stunting (KRS) agar tidak melahirkan bayi stunting.

Upaya tersebut dilakukan melalui pendampingan penyuluh KB, termasuk intervensi pemberian makan bergizi gratis (MBG) kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (B3) agar tepat sasaran.

“Sebenarnya kunci menekan angka stunting ada pada tiga sasaran ini,” jelasnya.

Carnoto yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Mataram menambahkan, jika intervensi terhadap ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dilakukan sejak dini secara preventif, maka stunting dapat dicegah.

“Lebih penting mencegah daripada mengobati,” tegasnya.

Sementara itu, sebelumnya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram juga menggencarkan pemberian suplemen khusus bagi anak-anak stunting sebagai upaya menekan prevalensi stunting hingga di bawah 5 persen.

“Kami sudah memberikan suplemen ini sejak 2024. Suplemen berasal dari donatur swasta dan pihak lainnya,” ujar Emirald.

Ia menjelaskan, suplemen yang diberikan berbentuk minuman saset dengan kandungan protein dan asam amino tinggi, sehingga baik untuk menunjang pertumbuhan serta meningkatkan daya tahan tubuh anak.

Namun demikian, keterbatasan anggaran membuat pemberian suplemen tersebut masih difokuskan pada kelompok sasaran tertentu.

“Mudah-mudahan ke depan semakin banyak dukungan dan pihak-pihak yang membantu,” pungkasnya. (pan)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO