Mataram (suarantb.com) – Setelah gagal tender pada 2025 lalu, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali mengusulkan proyek bunker kedokteran nuklir atau bunker terapi kanker Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) NTB senilai Rp10 miliar ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Proyek ini kembali diajukan menyusul kanker menjadi salah satu penyakit yang paling banyak ditemukan di NTB.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, M.M., MARS., mengatakan, untuk kembali mendapatkan proyek itu, pihaknya harus memulai ulang. Tahapan untuk mendapatkan proyek bunker dinilai tidak mudah, harus memperoleh izin dari sejumlah lembaga seperti Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).
“Kompleks ya kebutuhan bunker ini. Dulu saya ingat waktu mengurus Radioterapi sekitar lima tahun lalu itu prosesnya panjang. Karena dia tidak boleh bocor dari sai radiasi. Ketat sekali persyaratannya,” ujarnya, Selasa, 10 Februari 2026.
Menurutnya, karena proyek ini sempat gagal tender. Seharusnya Kemenkes tidak lagi menganggarkan karena sudah melewati batas tahun. Kendati begitu, pihaknya akan kembali mengusulkan agar NTB memiliki bunker untuk penanganan kanker. Adapun jika proyek itu tidak disetujui oleh pusat, NTB kini telah memiliki radioterapi penyakit kanker.
“Kebutuhan kita sekarang lebih kepada radiologi intervensi yang bisa mendiagnosa. Kemudian radioterapi itu yang sifatnya untuk kasus-kasus kanker. Karena kan kasus kanker kita sekarang sudah cukup tinggi,” lanjutnya.
Apabila pengusulan Pemprov ini kembali disetujui oleh pusat, bunker kedokteran nuklir sebagai pelengkap radioterapi yang telah dimiliki RSUD NTB. Bunker ini dikatakan sebagai alat intervensi penyakit kanker. “Jadi kita sih masih berharap adanya seperti itu (disetujui pusat, red),” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB itu mengaku, pihaknya akan kembali mengusulkan dokumen yang sama saat pengusulan tahun lalu. Semua persyaratan dokumen, sambungnya sudah terpenuhi. Hanya ada beberapa syarat teknis yang belum terpenuhi. “Sehingga belum bisa berjalan sesuai rencana,” sambungnya.
Fikri menjelaskan, penyakit kanker masuk daftar 10 penyakit tertinggi di NTB. Temuan terbanyak yaitu kanker leher rahim dan kanker payudara. Faktor tingginya penyakit kanker di NTB selain karena genetik juga karena perubahan gaya hidup. Selain itu, radikal-radikal bebas gampang menjangkit manusia.
“Baik makanan, gaya hidup kita yang juga sudah berbeda. Sebelum-sebelumnya kita banyak bergerak, sekarang kita kurang gerak,” terangnya.
Kanker masuk dalam penyakit KJSU, yaitu Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefrologi. Penyakit KJSU, katanya termasuk penyakit yang cukup banyak ditemukan di NTB. Bahkan masuk dalam daftar 10 besar. Berdasarkan data BPS, lima penyakit tertinggi yang ditemukan di NTB yaitu TBC dengan 11 ribu kasus, HIV/AIDS 195 kasus, Kusta, Malaria, DBD.
“Karena kan kasus kanker kita sekarang sudah cukup tinggi ya. Maksudnya dalam kategori KJSU tadi, kanker jantung, stroke, uronefrologi tadi, yang kategori penyakit katastropik (penyakit dengan biaya pengobatan tinggi, red) yang memang tinggi kasus kita. Makanya sekarang kita sudah punya radioterapi,” pungkasnya. (era)



