spot_img
Kamis, Februari 12, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK TIMUREmak-Emak Pesisir Bisa Jadi Garda Terdepan Antisipasi Bencana

Emak-Emak Pesisir Bisa Jadi Garda Terdepan Antisipasi Bencana

PARADIGMA lama memposisikan perempuan hanya sebagai kelompok rentan yang paling menderita saat bencana datang. Namun, gelombang perubahan kini bermula dari tiga desa pesisir di Lombok Timur: Pijot, Ketapang Raya, dan Tanjung Luar. Di sini, perempuan telah mengukir peran baru sebagai arsitek ketangguhan dan pemimpin aksi dini.

Transformasi ini menjadi inti pembahasan dalam Lokakarya “Kepemimpinan Sekolah Perempuan dalam Mengantisipasi Bencana” yang sekaligus menandai penutupan Program WAVES (Women’s School Leadership in Addressing Floods). Lokakarya ini tidak sekadar seremoni, melainkan ruang dialog setara antara kader Sekolah Perempuan, BPBD, Dinas P3AP2KB, dan pemerintah daerah.

“Perempuan bukan lagi sekadar kelompok rentan terdampak, melainkan pemimpin aksi dini di tingkat desa,” tegas Direktur LPSDM, Ririn Hayudiani. Pernyataan itu bukan isapan jempol, melainkan simpul dari perjalanan panjang program yang mengusung pendekatan inovatif Anticipatory Humanitarian Action (Aksi Merespons Peringatan Dini).

Melalui Program WAVES yang diselenggarakan LPSDM, perempuan desa dilibatkan secara aktif dalam seluruh mata rantai penanggulangan bencana. Mereka tidak lagi menunggu instruksi, tetapi merancang, memutuskan, dan bertindak.

“Perempuan terlibat aktif dari hulu hingga hilir, mulai dari simulasi, penyusunan rencana kontinjensi, pengelolaan sistem peringatan dini berbasis komunitas, hingga pelaksanaan mekanisme bantuan tunai,” jelas Ririn.

Dalam talkshow interaktif, perwakilan Sekolah Perempuan berbagi praktik baik. Mereka kini memimpin koordinasi antisipasi sebelum banjir rob melanda, mengelola informasi peringatan dini dari berbagai sumber, dan memastikan respons yang inklusif serta sensitif gender. Misalnya, memastikan penyandang disabilitas dan lansia dievakuasi terlebih dahulu, atau mengatur bantuan logistik yang sesuai kebutuhan keluarga.

Perjalanan transformasi yang sarat data dan emosi divisualisasikan secara apik dalam pameran “Waves of Women”. Melalui lima stan tematik—Sekolah Perempuan, Sistem Peringatan Dini, Aksi Dini, Bantuan Tunai, dan Promosi Program—publik diajak menyelami capaian program.

Pengunjung dapat melihat langsung bagaimana sistem peringatan dini berbasis komunitas bekerja, dokumen rencana kontinjensi yang disusun partisipatif, hingga dokumentasi aksi simulasi yang penuh semangat. Pameran ini menjadi bukti nyata bahwa pendekatan teknis penanggulangan bencana bisa dikelola dan dipimpin oleh komunitas, khususnya perempuan.

Program WAVES mungkin telah berakhir, namun warisannya terus hidup. Tiga desa tersebut kini memiliki sistem peringatan dini yang operasional, mekanisme aksi dini yang telah teruji, dan yang terpenting: kader-kader perempuan tangguh yang pengetahuan dan kapasitas kepemimpinannya telah terasah.

Mereka adalah aset berharga yang siap memandu komunitasnya menghadapi ancaman bencana di masa depan. Keberhasilan model pemberdayaan ini diharapkan bisa menjadi prototype yang diduplikasi dan diadaptasi di wilayah pesisir rentan bencana lainnya di Indonesia.

Program WAVES membuktikan satu hal: penanggulangan bencana yang efektif dan berkelanjutan mustahil tercapai tanpa inklusivitas dan kepemimpinan komunitas. Dan dalam kepemimpinan itu, perempuan telah membuktikan diri bukan sebagai pengikut, melainkan garda terdepan. Gelombang perubahan untuk ⁸ketangguhan bermula dari tangan dan pikiran mereka. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO