Sumbawa Besar (suarantb.com) – Dinas Kelautan Perikanan (Dislutkan) Kabupaten Sumbawa, mengaku produksi rumput laut selama tahun 2025 cenderung turun dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini mengakibatkan banyak pembudidaya beralih ke komoditas lain.
“Selama tahun 2025 produksi kita hanya mencapai sekitar 147.000 ton sedangkan di tahun 2024 produksi kita bisa mencapai angka 300.000-400.000 ton,” kata Ka dislutkan kepada Suara NTB, melalui Kabid Budidaya Perikanan, Naeli Zakiyah, Rabu (11/2/2026).
Penurunan produksi itu,terjadi lantaran ada beberapa sentra produksi yang tidak berproduksi rumput laut lagi. Bahkan dari puluhan lokasi sentra produksi hanya sebagian kecil saja yang masih bisa bertahan sampai saat ini.
“Kita ambil contoh di sentra produksi yang berada dalam di Tanjung Bele, mereka tidak lagi produksi rumput lantaran bibit yang ditanam tersebut banyak yang rontok dan rusak,” ucapnya.
Neli menyebutkan, ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan rumput laut tersebut rusak dan rontok. Beberapa faktor tersebut diantaranya kualitas air termasuk kualitas benih yang tidak tahan terhadap perubahan iklim perairan laut.
“Jadi, benih yang ada di kita (Sumbawa) saat ini jarang diperbaharui lagi sehingga tidak tahan terhadap perubahan suhu perairan yang ada saat ini,” ujarnya.
Selain faktor tersebut lanjutnya, harga yang cenderung murah saat itu menjadi tantangan bagi para pembudidaya untuk melakukan penanaman. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya harga rumput laut Sumbawa bisa menyentuh angka Rp20.000 hingga Rp28.000 per kilogram yang diambil dari petani langsung.
“Memang dulu harganya tinggi, tetapi di tahun 2025 harga tertinggi kita hanya di angka Rp15.000 per kilogram sementara untuk biaya bibit berkisar di angka Rp4.000-Rp5.000 per kilogram,” jelasnya.
Ia pun tidak menampik meski ada beberapa sentra produksi yang tidak aktif, justru ada lokasi baru yang mulai melakukan aktivitas usaha budidaya. Salah satunya berada di Labuhan Ujung, Tanjung Bila, dan
“Saat ini di Labuhan Kuris yang dulunya sangat masif sudah tidak ada lagi aktivitas budidaya. Faktor utamanya karena banyak penggunaan potasium untuk penangkapan ikan di sekitar lokasi budi daya,” ujarnya.
Pemerintah pun berkomitmen untuk terus mengembangkan potensi lahan untuk budidaya rumput laut. Hal itu dilakukan lantaran untuk budi daya rumput laut masuk dalam salah satu program strategis nasional (PSN).
“Kami akan terus berupaya mengembangkan lokasi produksi rumput laut. Karena masih banyak lahan yang belum dimanfaatkan secara maksimal untuk program budidaya tersebut,” tukasnya. (ils)



