Selong (suarantb.com) – Untuk pertama kalinya dalam sejarah, peletakan batu pertama pembangunan gedung strategis dilakukan pada malam hari oleh pejabat tinggi negara. Momen bersejarah itu berlangsung di Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Kamis (12/2/2026) malam.
Gedung yang mulai pembangunannya tersebut adalah Internasional Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) atau Pusat Penelitian Rumput Laut Tropis Internasional, yang berdampingan dengan klinik laboratorium spesialis kedokteran kepulauan. Peletakan batu pertama dilakukan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Dr. Stella Christie, didampingi Bupati Lotim H. Haerul Warisin serta Rektor Universitas Mataram (Unram) Prof. Dr. Bambang Hari Kusumo.
Dalam sambutannya, Prof. Stella Christie menegaskan bahwa penyematan kata “internasional” pada pusat riset ini bukan sekadar tempelan kosmetik atau gaya-gayaan belaka.
“Ini bukan omon-omon. Ini nyata. Peneliti kelas dunia akan datang langsung ke Ekas untuk meneliti rumput laut,” tegas Prof. Stella.
Wamen Stella menjelaskan, Kementerian Diktisaintek memiliki motto yang menjadi pegangan, yaitu “Diktisaintek Berdampak”. Seluruh program yang digulirkan, termasuk pembangunan ITSRC, harus mampu melahirkan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya di bidang ekonomi.
“Selama ini kita jarang mendengar penelitian berdampak langsung pada kesejahteraan. Padahal fakta dunia membuktikan, negara adidaya maju karena sains dan teknologi. Tanpa inovasi yang kuat, kita tidak akan berhasil,” ujarnya.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi luar biasa di sektor rumput laut. Saat ini, Indonesia menguasai 75 persen pasar rumput laut tropis dunia. Nilai pasar global mencapai 12 miliar dolar AS atau setara Rp 198 triliun per tahun. “Angka itu akan bertambah besar. Ini bukan pasar recehan. Ini pasar ribuan triliun,” imbuhnya.
Masa Depan Biofuel dan Plastik Ramah Lingkungan
Prof. Stella membeberkan sejumlah terobosan teknologi yang tengah dikembangkan berbasis rumput laut. Mulai dari biostimulan atau pupuk hayati yang menjadi masa depan pertanian organik, bioplastik untuk kemasan ramah lingkungan, hingga biofuel, bio aftur untuk bahan bakar pesawat.
“Biofuel selama ini dari minyak jelantah, jumlahnya terlalu sedikit. Rumput laut bisa jadi masa depan bahan bakar pesawat. Tapi untuk produksi besar, kita tidak bisa hanya mengandalkan panen dari laut lepas. Harus ada budidaya masif yang optimal,” paparnya.
Dengan nilai pasar biostimulan diproyeksikan mencapai Rp2.970 triliun dan bioplastik Rp495 triliun, Prof. Stella memperingatkan bahwa Indonesia bisa kehilangan peluang emas jika tidak serius melakukan riset, hilirisasi, dan penguasaan teknologi.
“Makanya kita hadirkan peneliti internasional. Mereka akan bekerja sama dengan peneliti lokal. Salah satu peneliti Unram bahkan saat ini sedang berkolaborasi dengan perguruan tinggi di Amerika. Ini bukti bahwa anak bangsa mampu bersaing di level dunia,” jelasnya.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin menyampaikan harapan besarnya agar pembangunan pusat riset ini tidak berhenti pada gedung penelitian. Ia secara khusus meminta Wamen Stella untuk membangun Sekolah Garuda di kawasan Ekas.
“Saya minta kepada Ibu Wamen, bangunkan kami Sekolah Garuda. Apa yang ditanam hari ini akan menjadi amal bakti untuk Lombok Timur. Jumlah SMP di kami 395 unit. Akan luar biasa jika didukung sekolah unggulan,” ujar Haerul.
Menurutnya, kehadiran fasilitas riset dan pendidikan berkualitas akan mengubah wajah Lotim, terutama di bidang kesehatan dan pendidikan kepulauan.
Masyarakat pembudidaya rumput laut diminta mendukung penuh. Diminta menjaga fasilitas yang telah dibangunkan oleh negara.
Rektor Unram, Prof. Dr. Bambang Hari Kusumo, menambahkan bahwa pihaknya tidak hanya membangun gedung, tetapi juga ekosistem riset dan kesehatan yang lengkap. Klinik laboratorium spesialis kedokteran kepulauan yang akan berdiri di Ekas merupakan yang pertama dan satu-satunya di Indonesia.
“Unram memiliki ciri khas tersendiri. Kami adalah satu dari tujuh program pendidikan dokter spesialis di Indonesia yang fokus pada kesehatan kepulauan. Saat ini kami tengah menyiapkan sembilan dokter spesialis,” jelas Prof. Bambang.
Fasilitas pendukung seperti ambulans dan boat (perawat cepat) juga akan disiapkan untuk melayani masyarakat pesisir. Unram bahkan telah mengalokasikan anggaran khusus untuk pembangunan asrama peneliti internasional.
“Dengan sinergi antara ITSRC, klinik spesialis, kampung nelayan, dan rencana Sekolah Garuda, Ekas akan menjadi etalase pembangunan berbasis sains dan teknologi di Indonesia timur,” pungkasnya.
Pemerintah pusat melalui Kemendiktisaintek berkomitmen untuk terus menggalang dana dan kolaborasi agar pusat riset ini segera beroperasi penuh dan memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat Lotim. (rus)



