Selong (suarantb.com) – Pemerintah pusat sudah merampungkan kampung nelayan merah putih (KNMP) senilai Rp23 miliar di Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Pemerintah Kabupaten Lotim tidak ingin program Kampung Nelayan Merah Putih hanya berhenti di Desa Ekas.
Bupati Lotim H. Haerul Warisin menyatakan optimismenya agar fasilitas serupa dapat dibangun di sejumlah titik strategis lainnya di wilayah pesisir Lotim. Menjawab Suara NTB di Ekas, Bupati Lotim yang akrab disapa H. Iron menjelaskan, dengan panjang garis pantai mencapai lebih dari 200 kilometer, dari ujung selatan hingga utara, Bupati menilai Lotim memiliki potensi kelautan yang sangat besar. Namun, potensi tersebut belum diimbangi dengan infrastruktur pendukung yang merata.
“Kampung Nelayan Merah Putih ini jadi prioritas kita. Panjang pantai kita 200 lebih kilometer, banyak lokasi yang bisa kita bangun. Jangan hanya di Ekas,” ujar Haerul Warisin saat ditemui di lokasi calon Kampung Nelayan, Kamis (12/2/2026).
Saat ini, Pemerintah Lotim telah menyiapkan empat lokasi baru yang dinilai layak untuk mendapatkan fasilitas serupa. Keempatnya tersebar di Desa Tanjung Luar, Desa Labuhan Haji, Desa Labuhan Lombok, dan Sugian.
“Keempat desa itu sudah kita usulkan. Mudah-mudahan kita bisa diberikan fasilitas yang sama oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta,” harapnya.
Untuk mempercepat realisasi, Bupati telah memerintahkan Kepala Dinas Perikanan untuk secara langsung membawa proposal ke Kementerian KKP. Komunikasi intensif juga terus dilakukan dengan para pemangku kepentingan di tingkat pusat.
Kampung Nelayan Merah Putih di Ekas disebut menelan anggaran sebesar Rp23 miliar. Sementara untuk pengembangan di empat titik baru, nilai yang diusulkan berkisar Rp12 miliar per lokasi.
Bupati menjelaskan, keunggulan utama dari program ini adalah hadirnya fasilitas pabrik es dan cold storage (gudang pendingin). Fasilitas ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas harga hasil tangkapan nelayan, terutama saat musim panen raya.
“Selama ini, kalau hasil melimpah, harga jatuh, dan nelayan tidak punya tempat menyimpan. Dengan adanya cold storage, kita bisa mempertahankan harga. Pendapatan nelayan stabil, kesejahteraan pun cepat tercapai,” terangnya.
Tak hanya tempat penyimpanan, kawasan Kampung Nelayan Merah Putih di Lotim juga dirancang sebagai kawasan perikanan terpadu. Di perairan sekitar Ekas, saat ini telah terlihat puluhan jaring apung (KJA) yang digunakan untuk membudidayakan udang lobster, ikan kerapu, hingga berbagai jenis ikan konsumsi.
“Di sini nelayan bisa menangkap, bisa memelihara. Semua bisa dilakukan. Ini bukan sekadar tempat singgah, tapi pusat ekonomi baru,” tambahnya.
Pemerintah daerah berharap agar Presiden RI dapat meresmikan langsung Kampung Nelayan Merah Putih di Ekas. Surat undangan dan proposal kegiatan telah disampaikan ke Istana.
“Kami sudah buat surat kepada Bapak Presiden. Harapan kami, beliau bisa hadir. Bukan hanya meresmikan satu titik, tapi sekaligus melihat sendiri potensi besar yang kami miliki di Lotim,” pungkas Haerul.
Dengan adanya tambahan kampung nelayan di empat lokasi baru, Pemkab Lotim optimistis sektor kelautan dapat menjadi motor penggerak utama perekonomian daerah, sekaligus meningkatkan kesejahteraan ribuan nelayan di pesisir Lotim. (rus)



