spot_img
Jumat, Februari 13, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK TIMUR"Roah 1001 Tebolak Beak" Desa Gelanggang, Seribu Sajian dan Satu Doa Menyambut...

“Roah 1001 Tebolak Beak” Desa Gelanggang, Seribu Sajian dan Satu Doa Menyambut Ramadan

 

Aroma nasi hangat bercampur rempah menusuk hidung sejak kaki melangkah menuju pemakaman Batu Gereng Desa Gelanggang, Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Di sudut dapur darurat, puluhan perempuan sibuk menyusun piring-piring tanah liat. Mereka tak sekadar menghidang, tetapi sedang merangkai makna.

RIBUAN dulang berisi nasi dan lauk pauk tertata rapi, masing-masing ditutup anyaman bambu berbentuk kerucut yang oleh warga lokal disebut tebolak beak. Kamis (12/2/2026) sore, Desa Gelanggang, Kecamatan Sakra Timur, bukan sekadar menyelenggarakan festival kuliner. Mereka menggelar Roah 1001 Tebolak Beak, ritual tahunan yang telah mengakar kuat dalam denyut nadi masyarakat Sasak.

“Kami menyebutnya Roah karena ini berlangsung di bulan Sya’ban, atau bulan Roah dalam penanggalan kami,” ujar Ibrahim, Ketua Panitia Tradisi Parade Tebolak Beak dengan sorot mata bangga.

Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya tentang makan besar, tapi tentang menghidupkan kembali ingatan bahwa Ramadan akan segera tiba. Tebolak atau istilah lain juga disebut tembolak merupakan tutup saji. Sedangkan kata beak dalam dialek Pejanggik berarti merah. Istilah lain, dialeg Selaparang beak disebut juga dengan istilah abang. Sementara kata roah, dimaknai sebagai sebuah kegiatan syukuran.

Tradisi ini melibatkan tiga desa, Gelanggang, Lepak, dan Sakra Selatan. Ribuan warga berbaur tanpa sekat. Mereka duduk bersila dalam barisan panjang mengelilingi nampan-nampan makanan. Tak ada kursi, tak ada meja. Yang ada adalah kebersamaan murni dalam ritual begibung—makan bersama dari satu wadah.

Namun, sebelum menyentuh hidangan, langit senja itu digemakan lantunan zikir dan doa. Ibrahim menjelaskan, Roah Tebolak Beak adalah pengingat spiritual. “Kami ingin umat Islam di sini memasuki Ramadan dengan hati yang bersih dan khusyuk. Ini simbol agar keimanan kita semakin kuat,” katanya.

Setiap tutup tebolak beak yang dibuka, seperti membuka tabir kerinduan pada bulan suci. Setiap suap nasi yang disantap bersama, diyakini sebagai pengikat tali silaturahmi yang mungkin sempat renggang oleh hiruk-pikuk dunia.

Di tengah lautan warga lokal, sesosok perempuan berambut pirang duduk tenang. Eloise, turis asal Prancis, tampak canggung tetapi antusias. Ia adalah satu dari sedikit wisatawan yang kebetulan menjadwalkan kunjungan ke Lombok Timur di pekan ini.
“Ini pertama kalinya saya melihat sesuatu seperti ini,” ucap Eloise dalam Bahasa Inggris bercampur logat Prancis yang kental. Matanya berbinar saat mencoba membuka sendiri tutup tebolak beak di hadapannya.

“Budaya yang sangat indah. Bukan hanya makanannya, tapi saat semua orang berkumpul dan berbagi. Tidak ada perbedaan. Semua sama,” katanya.

Eloise mengaku tak menyangka menyaksikan keramaian yang begitu hangat. Ia bahkan berencana kembali tahun depan. “Mungkin saya akan kembali. Saya ingin melihat ritual adat lain di Lombok,” tambahnya.

Di era digitalisasi dan gempuran modernitas, Roah 1001 Tebolak Beak menjadi oase ketenangan. Ribuan tutup bambu itu bukan sekadar penutup makanan, tetapi simbol perlindungan, kesederhanaan, dan rasa syukur.

Menjelang Magrib, doa dipanjatkan. Suara amin menggema, diikuti suara sendok kayu yang menyentuh piring tanah. Malam itu, tak ada yang pulang dalam keadaan lapar. Bukan hanya perut, tapi jiwa mereka juga terisi.

Desa Gelanggang, menyambut Ramadan tak perlu gemerlap lampu atau petasan. Cukup dengan seribu satu sajian, satu hati, dan doa yang sama: semoga bulan suka datang membawa berkah. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO