spot_img
Jumat, Februari 13, 2026
spot_img
BerandaBUDAYA DAN HIBURANTrauma yang Diwariskan

Trauma yang Diwariskan

 

SEBERAPA besar keluarga memengaruhi cara anak bertumbuh? Apakah cara ayah dan ibu membesarkan kita mempengaruhi kondisi mental saat dewasa? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi benang merah dalam novela Soraya karya Iin Farliani.


Dalam Soraya, penulis asal Mataram itu mencoba menelusuri bagaimana nilai-nilai patriarki dan konstruksi maskulinitas bekerja dalam lingkup keluarga. Soraya mengeksplorasi bagaimana keluarga dapat memengaruhi kondisi dan cara pandang seorang anak saat dewasa.


Novela ini hadir dalam lima bab cerita dengan mengikuti perjalanan tiga tokoh vital: Sora, Raya, dan Danna. Sora dan Raya, dua saudara yang tumbuh di bawah bayang-bayang figur ayah yang dominan dan otoriter. Dalam rumah yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kuasa, keduanya mengalami tekanan yang berbeda. Sebagai anak laki-laki di keluarganya, Raya tumbuh dengan ajaran penuh toksik maskulinitas. Di lain sisi, Raya sebagai adik perempuan turut menanggung beban luka atas kondisi keluarganya.


Di samping Sora dan Raya, hadir tokoh Danna sebagai pihak yang memiliki kehidupan yang berbanding terbalik. Danna hadir sebagai representasi seorang lelaki yang tumbuh tanpa dibebani tuntutan maskulinitas yang mengekang.

Keluarga dan Trauma Sora-Raya

Dalam cerita ini, kebengisan ayah Sora dan Raya nampak jelas dari caranya yang kerap menggunakan kekerasan dalam mendidik keduanya. Raya diajarkan bahwa seorang pria harus keras, dan bahwa pukulan adalah bentuk ketegasan laki-laki.


Ada satu bagian ketika Raya pergi memancing bersama ayahnya, tetapi ia justru ditinggalkan sendirian di tengah hutan belantara. Sang ayah sengaja melakukan hal itu karena ia percaya, pengalaman tersebut akan menjadikan anaknya “lelaki sejati”. Raya juga dididik untuk tidak menangis dan tidak pernah mengungkapkan rasa sakitnya.


Toksik maskulinitas yang dipelihara dalam keluarga Sora dan Raya meninggalkan luka yang mendalam hingga keduanya beranjak dewasa. Raya harus dirawat di rumah sakit jiwa karena ia membutuhkan pertolongan medis. Kondisi mental Raya adalah buah hasil didikan ayahnya. Sora, meskipun tidak merasakan langsung tangan besi sang ayah—tetap mengalami trauma mendalam sebagai saksi atas kekerasan yang dialami kakak dan ibunya.

Landasan Udara dan Metafora Luka

Ada ikatan kuat tentang bagaimana kondisi mental para tokoh dan latar tempat penceritaan. Iin dengan pandai bermetafora, menyampaikan perasaan para tokohnya lewat manifestasi tempat-tempat di sekitarnya. Ketiga tokoh dalam cerita ini tinggal di dekat landasan udara, sehingga suara pesawat yang menggelegar menjadi bagian dari hari-hari mereka.


Menariknya, respons masing-masing tokoh terhadap suara pesawat berbeda-beda. Bagi Sora, gemuruh pesawat justru menjadi peredam kegaduhan batin. Suara keras itu menutupi kekacauan dalam kepala Sora. Ia menemukan jeda di tengah bising mesin burung besi itu.


Sedangkan bagi Raya, suara keras pesawat yang memekikkan telinga justru menambah rasa sakitnya. Kerasnya suara mesin pesawat yang melintas justru ikut bercampur dengan beratnya rasa sakit yang ia tampung. Sehingga ia sama bencinya dengan suara pesawat dan rasa sakit yang menjangkitinya. Sementara bagi Danna, suara bising pesawat itu biasa saja—tidak memicu rasa apa pun dalam dirinya.


Ada hal menarik dari cara penulisan Iin dalam cerita ini. Jika biasanya cerita kerap hadir dengan penceritaan orang ketiga yang tak berwujud, Iin justru sedari awal ikut menghadirkan sosok narator sebagai tokoh “kami”. “Kami” hadir sebagai penuntun pembaca menyimak kisah para tokoh.


Penulis juga sangat detail dalam menggambarkan latar cerita. Pembaca seakan-akan ikut hadir, merasakan ketakutan Sora dan Raya secara langsung. Kita seperti ikut berdiri di dalam rumah yang penuh dengan amarah itu. Detail-detail ruang dan suasana yang dihadirkan penulis tidak sekadar menjadi pelengkap cerita.


Melalui Soraya, Iin Farliani menghadirkan kisah yang begitu dekat dengan realitas sosial kita. Di negeri yang masih memelihara budaya patriarki, pola asuh yang sarat tuntutan maskulinitas kerap dianggap wajar, bahkan perlu. Padahal, di balik dalih “mendidik agar kuat,” tersimpan luka yang dapat menetap hingga dewasa.


Novela ini tidak sekadar bercerita tentang kekerasan dalam keluarga, tetapi juga tentang bagaimana trauma dapat diwariskan serta bagaimana konstruksi “lelaki sejati” bisa menjadi beban yang menghancurkan. Soraya mengajak pembaca untuk merenungkan kembali nilai-nilai yang selama ini diterima tanpa banyak tanya. (Mit)

 

Data Buku:
Judul Buku: Soraya
Penulis: Iin Farliani
Cetakan Pertama: September 2024
Penerbit: BASABASI
Jumlah halaman: 100
Ukuran: 14 × 20 cm

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO