Giri Menang (suarantb.com) – Bendung Pitung Bangsit, Desa Kediri Selatan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) telah dinormalisasi oleh Tim Dinas PUPRPKP berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I. Sedimentasi itu disebabkan tumpukan sampah kiriman dari daerah hulu sungai yang melintasi beberapa desa di wilayah Kediri.
Untuk mencegah sedimentasi parah, pihak desa pun bersedia menangani secara berkala. Namun pihak desa berharap agar dipasangkan jaring penangkap sampah di sungai pada masing-masing daerah perbatasan desa untuk menghalangi sampah ke daerah hulu yang menyebabkan sedimentasi di Bendung dan mengganggu areal pertanian warga.
Kepala Desa Kediri Selatan, Edi Erwinsyah mengatakan normalisasi bendung sungai Pitung Bangsit telah dilakukan beberapa hari lalu. Pihaknya pun menyampaikan terima kasih kepada Pemda atas arahan Wabup berkoordinasi antara PU dengan BBWS yang telah menangani normalisasi atau mengangkat tanah dan sampah.
“Bagi kami di pemerintah desa adalah awal untuk menindaklanjuti kegiatan yang sudah dilakukan (normalisasi) dengan melakukan pemeliharaan (pengangkatan),” kata Edi, Rabu (18/2).
Pihaknya dari desa akan mengangkat tumpukan sampah di Bendung sungai tersebut. Pengangkatan sampah akan dilakukan setiap dua kali atau setidaknya satu kali dalam satu bulan ketika terjadi penumpukan sampah. Sebab jika dibiarkan berbulan-bulan, maka sedimentasi itu sulit diangkat secara manual. “Kalau dibersihkan setiap bulan, insyaallah tidak menumpuk,” ujarnya.
Menurutnya, yang lebih prioritas adalah penanganan pencegahan sedimentasi ini. Terutama dari sisi kesadaran masyarakat dari daerah hulu mulai dari Desa Montong Are dan Kediri Induk untuk tidak membuang sampah di sungai.
“Kami sangat berharap dari pemerintah untuk membuat jaring sampah di setiap titik perbatasan desa, antara Desa Montong Are dengan Desa Kediri Induk, dan Kediri Induk dengan Kediri Selatan dipasang jaring sampah,” harapnya.
Dengan dipasangkan jaring penangkap sampah ini, desa bertanggung jawab terhadap sampah masing-masing. Karena selama ini kalau dibuat jaring sampah di Kediri Selatan saja yang notebene daerah hulu, tentu pihaknya akan repot karena tiap hari harus mengangkut sampah dari Bendung sungai hingga berton-ton. Terlebih dengan kondisi TPS di wilayah Kediri overload, tentu menjadi persoalan.
Jaring sampah ini lanjut dia bisa mencegah atau mengurangi sampah dari daerah hulu ke hilir, seperti Desa Kediri Selatan, sehingga air yang mengalir di sungai ini murni tidak bercampur sampah. Sebab yang terdampak saat ini adalah para petani di daerah hilir, karena sampah yang masuk ke lahan pertanian berakibat pada penurunan produksi petani.
“Kasihan petani-petani ini, yang tadinya dia butuhkan air untuk mengairi sampah tetapi justru yang didapatkan sampah sehingga sangat menganggu petani,” tegasnya.
Pihak desa sendiri tidak memiliki kewenangan membangun jaring sampah karena ranahnya di BBWS atau Pemkab. Sehingga pihak terkait yang membuat jaring tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (PUPR-KP) Lalu Ratnawi mengatakan bahwa pihaknya melakukan normalisasi di Bendung Pitung Bangsit untuk memastikan distribusi air bagi kebutuhan masyarakat dan lahan pertanian di wilayah sekitarnya.
“Langkah ini merupakan tindak lanjut langsung dari peninjauan yang dilakukan oleh Wakil Bupati Lobar Hj. Nurul Adha,” ujarnya.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai dari tanggal 13 hingga 15 Februari 2026 dilakukan secara intensif dengan melibatkan berbagai pihak.Dinas PUPR-KP Lobar tidak bekerja sendiri, melainkan bersinergi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lobar serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I. (her)



