DESA lumbung atau penghasil padi di Lombok Barat (Lobar) justru menjadi lokus kemiskinan ekstrem. Seperti Desa Banyu Urip, Kecamatan Gerung menjadi salah satu desa dengan jumlah serapan gabah Bulog tertinggi, tetapi ironis banyak warganya hidup miskin ekstrem. Sehingga Pemkab pun menjadikan lokus penanganan kemiskinan ekstrem.
“Desa-desa yang penyumbang padi justru masuk dalam miskin eketrem, seperti Banyu Urip, Tempos dan sebagainya,” sebut Una sapaan akrab dari Wabup Lobar Hj. Nurul Adha, Kamis (19/2/2026).
Menyikapi ini, Una menegaskan harusnya ada upaya menyeluruh berkolaborasi dengan OPD terkait seperti Dinas Pertanian dan PMD. OPD terkait perlu memotret apa yang perlu dilakukan dalam menangani petani ini.
Langkah-langkah penanganan OPD harus dilakukan terukur agar petani ini bisa mengangkat harkat dan martabatnya, bisa naik kelas dari yang kurang mampu atau miskin, naik hingga keluar dari kemiskinan. Sebab bagaimana pun mereka punya peranan besar dalam menjaga ketahanan pangan daerah dan negara. “Sering saya bilang tidak bisa makan kalau tidak ada petani,”ujarnya.
Wabup juga mendorong semua OPD harus berkolaborasi dalam penanganan suatu persoalan. Termasuk dalam mengentaskan ini maka semua OPD harus menggerakkan berbagai sektor pembangunan. OPD perlu berkolaborasi dengan OPD lain dalam mengembangkan semua sektor. Seperti Dinas Pariwisata, bagaimana kolaborasi untuk memberi peran pada pemuda dan masyarakat dalam ekonomi kreatif, sehingga warga yang datang itu nyaman karena bersih.
Menurutnya faktor kenyamanan dan kebersihan ini menjadi faktor penentu dalam pengembangan desa wisata. Hal ini menjadi kekuatan pariwisata untuk pengunjung tertarik datang berkunjung, sehingga dengan pariwisata ini, maka efeknya besar pada peningkatan perekonomian masyarakat.
Penduduk Miskin Ekstrem Bertambah
Sementara itu Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Lobar Deny Arif Nugroho mengatakan bahwa dilihat dari angka penduduk miskin ekstrem tahun 2024 8.950 orang atau sebesar 1,57 persen. Terjadi peningkatan dibanding tahun 2023 1,17 persen atau 8.820 orang yang berstatus kemiskinan ekstrem.
Aktivis dari Lembaga Masyarakat Transparansi Anggaran Samsul menyampaikan berdasarkan data yang diperoleh dari BPS memuat semua daerah kategori miskin dan miskin ekstrem di NTB. Termasuk,di Lobar terdapat 14 desa yang masuk kategori miskin ekstrem.
‘’Dalam data itu terdapat variabel yang jelas. Di antara 14 desa itu dirinci, Desa Batulayar sebanyak 260 jiwa tinggal di kawasan hutan dan pesisir. Taman Ayu terdapat 296 Jiwa ada di non kawasan. Mekar Sari, ada 145 jiwa di kawasan hutan. Kuripan Utara, terdapat 304 jiwa di non kawasan,’’ ujarnya. Kemudian 318 jiwa di Desa Labuan Tereng ada di kawasan hutan dan pesisir. Desa Mareje, terdapat 356 di kawasan hutan. .
Selanjutnya, Desa Mareje Timur, terdapat 252 jiwa di kawasan hutan. Sekotong Timur, terdapat 446 berada di kawasan hutan. Batu Mekar, 467 jiwa ada di kawasan hutan. Lebah Sempage terdapat 261 jiwa di kawasan hutan. 347 jiwa warga Desa Sedau berada di kawasan hutan. Kedaro, terdapat 401 jiwa di kawasan hutan. Desa Pelangan, 491 jiwa tinggal di kawasan hutan dan pesisir. Dan Desa Taman Baru, terdapat 412 jiwa di kawasan hutan. (her)



