spot_img
Kamis, Februari 19, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK TIMURLonjakan Harga Cabai, Distan Lotim Sebut Tantangan Berat Tanam di Musim Hujan

Lonjakan Harga Cabai, Distan Lotim Sebut Tantangan Berat Tanam di Musim Hujan

Selong (suarantb.com) – Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur (Distan Lotim) mencatat tantangan besar dalam budi daya cabai selama musim hujan yang berkepanjangan. Kondisi ini menjadi penyebab utama fluktuasi harga yang terjadi di pasaran, cabai rawit sempat menyentuh harga tinggi dalam beberapa pekan terakhir. Saat ini harganya sudah tembus Rp100 ribu per kilogram (kg).

Kepala Dinas Pertanian Lotim, Lalu Fathul Kasturi, menjawab Suara NTB, Kamis (19/2/2026) mengungkapkan bahwa luas tanam cabai pada musim tanam 2025 hingga Januari 2026 tercatat seluas 693 hektare. Dari lahan seluas itu, total produksi mencapai 2.769 ton dengan rata-rata produktivitas 39,97 kuintal per hektare. Meski terbilang produktif, cuaca ekstrem menjadi kendala utama dalam budidaya. Selama beberapa bulan terakhir ini, tanaman cabai banyak yang rusak.

Menurutnya, curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan gagal panen akibat busuk buah dan serangan hama. Sebagai daerah sentra produksi cabai nasional, Lotim sebenarnya memiliki potensi besar. Dalam situasi cuaca normal, produksi cabai Lotim tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga dikirim ke berbagai daerah luar Lotim. Champion Cabai kedap mengirim ke luar daerah 4-5 ton per hari.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Lotim telah berupaya membantu petani melalui program pembuatan green house atau rumah tanaman. Namun, Mamiq Kas mengakui bahwa jumlahnya masih sangat terbatas sehingga belum bisa maksimal dalam melindungi tanaman dari curah hujan.

“Ada empat kelompok yang sudah kita berikan bantuan untuk pembuatan green house, dengan luas 5 are satu green house,” jelasnya .

Di sisi lain, lonjakan harga cabai di tingkat konsumen sempat terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Data dari Dinas Perdagangan Lotim mencatat, harga cabai rawit sebelumnya sempat melonjak hingga Rp80.000 per kilogram, namun kini berangsur normal di kisaran Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram . Bahkan, pada awal Februari 2026, harga cabai rawit di tingkat NTB sempat menyentuh Rp90.000 hingga Rp95.000 per kilogram akibat curah hujan tinggi dan meningkatnya permintaan lokal serta pengiriman ke luar daerah .

Menanggapi dinamika harga ini, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur melalui Dinas Perdagangan terus berkolaborasi dengan para pengusaha atau yang disebut “Champion Cabai” untuk melakukan stabilisasi harga. Upaya yang dilakukan antara lain dengan menggelar gerakan pasar murah di seluruh wilayah kecamatan.

“Peran mereka sangat strategis dalam menjaga kestabilan harga cabai di pasar,” ujar Kepala Dinas Perdagangan Lotim, Hadi Fathurrahman saat dikonfirmasi terpisah.

Gerakan pasar murah ini diharapkan mampu meringankan beban masyarakat di tengah fluktuasi harga sekaligus mengendalikan inflasi daerah menjelang bulan suci Ramadan. Pemerintah daerah juga terus mengimbau para distributor untuk memprioritaskan kebutuhan lokal sebelum mengirimkan komoditas ke luar daerah.

Dengan sinergi antara dinas teknis dan para pelaku usaha, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur optimistis dapat menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga cabai, sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya dengan harga yang terjangkau. (rus)

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO