Pernahkah anda membayangkan sebuah tong sampah kosong bisa menjadi premis utama sebuah film yang mendebarkan? Begitulah keajaiban yang disuguhkan oleh tangan dingin sutradara Nithilan Saminathan melalui film berjudul Maharaja. Film India berbahasa Tamil yang rilis pada 2024 ini bukan sekadar tontonan biasa; ia adalah sebuah pernyataan bahwa ide sederhana, bila dieksekusi dengan jenius, dapat berubah menjadi mahakarya.
Bagi sebagian penonton yang mungkin memiliki stigma negatif terhadap film India (Bollywood)–yang kerap dicap terlalu berlebihan (lebay), penuh tarian tanpa urgensi, atau adegan yang tak masuk akal–Maharaja hadir untuk meruntuhkan tembok stigma tersebut. Alih-alih terkesan alay, Maharaja justru menawarkan narasi yang dingin, gelap, namun sangat manusiawi.
Cerita berpusat pada seorang tukang cukur bernama Maharaja (diperankan dengan sangat brilian oleh Vijay Sethupathi). Kehidupan Maharaja yang tenang terusik ketika rumahnya disatroni perampok saat putrinya sedang pergi berkemah. Namun, ada yang ganjil. Maharaja tidak melaporkan kehilangan perhiasan atau uang dalam jumlah besar. Ia datang ke kantor polisi dengan satu tuntutan yang membuat para petugas tertawa terpingkal-pingkal: ia ingin “Lakshmi” ditemukan.
Siapakah Lakshmi? Ternyata Lakshmi bukanlah manusia, melainkan sebuah tong sampah yang kosong. Bagi Maharaja, tong itu adalah “malaikat pelindung”. Bertahun-tahun lalu, dalam sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa istrinya, tong itulah yang secara ajaib menahan reruntuhan dan menyelamatkan nyawa putrinya, Jothi (Sachana Namidass). Sejak saat itu, tong tersebut dianggap sebagai anggota keluarga, bahkan disembah layaknya dewa.
Kritik Sosial yang Menampar
Laporan kehilangan tong sampah ini menjadi pintu masuk bagi Nithilan untuk menelanjangi kebobrokan birokrasi aparat di India. Adegan di kantor polisi adalah bentuk komedi satir yang getir. Kita melihat bagaimana aparat kepolisian—yang seharusnya mengayomi—justru bersikap acuh tak acuh ketika masalah yang diadukan dinilai sepele dan tentunya tak bercuan.
Kasus ini baru dianggap “serius” setelah Maharaja memberikan uang pelicin yang besar. Di sini, film berhasil memperlihatkan sisi gelap birokrasi aparat; di mana sistem hukum hanya bergerak jika ada bahan bakar berupa uang. Penonton diajak melihat ketimpangan ekonomi dan betapa sulitnya orang kecil mendapatkan keadilan, bahkan untuk sesuatu yang secara emosional sangat berharga bagi mereka.
Akting dan Kedalaman Karakter
Vijay Sethupathi sekali lagi membuktikan mengapa ia dianggap sebagai salah satu aktor terbaik di India saat ini. Aktingnya sebagai Maharaja sangat minimalis namun penuh tenaga. Tatapan matanya yang kosong namun menyimpan luka mendalam membuat penonton bersimpati sekaligus penasaran. Di sisi lain, kehadiran Anurag Kashyap sebagai Selvam memberikan kontras yang sempurna. Ia memerankan sosok antagonis yang bengis namun memiliki latar belakang yang kompleks, menciptakan dinamika kucing-kucingan yang menegangkan.
Teka-teki yang Berantakan tetapi Presisi
Kehebatan utama Maharaja terletak pada penyuntingan dan alur ceritanya. Film ini menggunakan struktur non-linear (campuran) yang sangat berisiko. Pada satu jam pertama, penonton mungkin akan merasa jengah karena kepingan-kepingan cerita tampak tidak saling berkaitan. Ada subplot tentang preman pasar, ada cerita tentang kehidupan domestik Maharaja, dan ada kilas balik kecelakaan masa lalu.
Namun, di sinilah letak kecerdasan Nithilan. Ia seolah menantang kesabaran penonton. Ia menyajikan “hidangan pembuka” yang membingungkan hanya untuk memberikan “hidangan utama” yang meledak di akhir. Setiap dialog kecil, setiap benda yang terlihat tidak penting di awal, ternyata adalah kunci untuk membuka pintu kebenaran di akhir film.
Puncak Konflik dan “Plot Twist” yang Mengguncang
Ketika film memasuki babak ketiga, semua benang kusut mulai terurai. Plot twist yang dihadirkan bukan sekadar untuk mengejutkan (shock value), melainkan memiliki landasan emosional yang sangat kuat dan menyakitkan. Penonton yang awalnya tertawa melihat kegigihan Maharaja mencari tong sampah, perlahan-lahan akan terdiam dan mungkin menitikkan air mata saat mengetahui alasan sebenarnya di balik pencarian tersebut.
Ada tema tentang penebusan dosa, kasih sayang ayah yang tak terbatas, dan dampak mengerikan dari patriarki serta kekerasan seksual yang disisipkan dengan sangat halus namun menusuk. Maharaja berhasil membuktikan bahwa untuk sebuah kejutan yang cemerlang, diperlukan bangunan cerita yang kokoh dan rumit.
Pepatah lama mengatakan “Tong kosong nyaring bunyinya” untuk merujuk pada orang yang banyak bicara tetapi tak berisi. Dalam film ini, Nithilan Saminathan melakukan redefinisi total. Tong sampah milik Maharaja memang kosong secara fisik, namun ia “nyaring” secara makna. Ia menyuarakan kebenaran, membongkar kejahatan, dan menjadi saksi bisu dari sebuah tragedi kemanusiaan yang luar biasa.
Dari segi konsep juga demikian. “tong kosong” bisa diartikan sebagai representasi pemahaman penonton yang bingung dengan lapisan alur, silang sengkarut konflik, lalu Nithilan akhirnya memukul tong kosong itu sehingga terdengar suara nyaring (plot twist) yang membuat penonton terkaget-kaget.
Maharaja adalah bukti bahwa sinema India telah berevolusi jauh melampaui ekspektasi pasar global. Ini adalah film yang wajib ditonton bagi siapapun yang mencintai cerita dengan kedalaman logika dan emosi yang seimbang. (Sibawaeh)
Data Film:
Judul Film: Maharaja
Sutradara: Nithilan Saminathan
Pemain: Vijay Sethupathi, Anurag Kashyap, Sachana Namidass, Mamta Mohandas
Genre: Action, Drama, Thriller
Durasi: 140 Menit
Rumah Produksi: Passion Studios bersama The Route
Tahun: 2024



