spot_img
Minggu, Februari 22, 2026
spot_img
BerandaBIMABanjir Bima dan Sumbawa, Ratusan Rumah Terendam

Banjir Bima dan Sumbawa, Ratusan Rumah Terendam

Bima (Suara NTB) – Cuaca eksterm yang terjadi pada, Sabtu-Minggu (21-22/2) di Kabupaten Bima dan Sumbawa,mengakibatkan ratusan rumah milik warga teredam banjir. Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, tetapi kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

Di Kabupaten Bima banjir akibat cuaca ekstrem meluas setelah hujan sedang hingga lebat disertai kilat, petir, dan angin kencang terjadi sejak hari Sabtu malam hingga Minggu dini hari (21-22/2).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, mencatat sejumlah 241 rumah warga terdampak di Kecamatan Tambora dan Kecamatan Sanggar. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bima, Nurul Huda mengatakan, banjir dipicu meningkatnya debit air dari kawasan pegunungan yang tidak mampu ditampung sungai dan drainase di sejumlah desa terdampak.

“Curah hujan cukup tinggi disertai angin kencang. Debit air dari gunung meningkat dan drainase tidak mampu menampung aliran air sehingga meluap ke permukiman warga,” ujarnya, Minggu (22/2).

Data BPBD menunjukkan dampak terbesar terjadi di Kecamatan Tambora, khususnya Desa Labuan Kananga. Banjir setinggi 10-70 sentimeter merendam 140 unit rumah atau 140 kepala keluarga dengan total 526 jiwa terdampak di tiga dusun. Yakni, Dusun Sarae, Mada Oi, dan Na’e. Selain meredam permukiman warga, dua sekolah dasar, satu masjid, kantor desa, dan pasar desa ikut tergenang.

Genangan lumpur juga menutup akses jalan provinsi di desa tersebut dan menyebabkan kemacetan kendaraan. BPBD masih melakukan pendataan terhadap kerusakan lahan pertanian serta infrastruktur umum lainnya.

“Di Desa Kawinda Na’e, banjir setinggi 10-60 sentimeter merendam 20 rumah atau 65 jiwa di Dusun Soro Bura. Arus air juga mengikis bahu jalan sehingga berpotensi membahayakan pengguna jalan. Pada lokasi yang sama, pohon tumbang di ruas jalan lintas Tambora-Kore menghambat arus lalu lintas karena proses pembersihan masih berlangsung,” jelasnya.

Banjir turut terjadi di Desa Rasabou dengan ketinggian air 10-30 sentimeter yang merendam 44 rumah atau 135 jiwa di tiga RT. Sementara, di Desa Oi Panihi, luapan air merusak satu ruas jalan provinsi dan dinilai rawan bagi pengguna jalan yang melintas.

Sebelumnya, banjir lebih dulu merendam wilayah Kecamatan Sanggar pada Sabtu sore. Di Desa Kore, sebanyak 25 rumah atau 81 jiwa terdampak akibat genangan air setinggi 20-50 sentimeter. Banjir merusak tembok penahan air sepanjang tiga meter dan aspal jalan menuju Dermaga Kore sepanjang 10 meter.

Ia mengatakan,genangan lumpur sepanjang puluhan meter di jalan lintas Tambora juga sempat menghambat arus kendaraan. Kondisi serupa terjadi di Desa Sandue dengan 12 kepala keluarga atau 38 jiwa terdampak banjir pada dua RT di Dusun Lagaga.

Nurul Huda menjelaskan kapasitas drainase yang terbatas serta penyumbatan sampah memperparah luapan air ke permukiman warga.“Drainase tidak mampu menampung debit air dan terdapat sampah yang tersangkut sehingga mempercepat genangan,” katanya.

Pihaknya memastikan banjir di seluruh lokasi terdampak telah berangsur surut pada Minggu siang. Warga melakukan pembersihan lumpur dan sampah secara mandiri, sementara tim BPBD bersama aparat kecamatan, TNI-Polri, dan pemerintah desa melakukan kaji cepat serta pendataan dampak bencana.

Ia juga berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah terkait, untuk penanganan lanjutan sesuai kewenangan masing-masing, termasuk perbaikan infrastruktur dan penyaluran bantuan tanggap darurat serta logistik.

“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir bandang, angin kencang, maupun tanah longsor,” ujar Nurul Huda.

Sementara itu, di Kabupaten Sumbawa banjir merendam rumah warga di Desa Muer dan Brang kolong, Kecamatan Plampang, Sabtu (21/2). Banjir yang terjadi jelang berbuka puasa tersebut mengakibatkan puluhan rumah warga terendam setinggi lutut orang dewasa. “Banjir terjadi akibat hujan deras yang terjadi siang hari hingga sore yang mengakibatkan air sungai meluap. Saat ini, kondisi rumah masyarakat masih dalam kondisi terendam,” kata Kepala Pelaksana BPBD melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik, Dr. Rusdianto.

Banjir yang terjadi diakibatkan luapnya air sungai yang marendam puluhan unit rumah. Selain itu beberapa alat elektronik masyarakat juga rusak akibat terendam banjir.

“Ada 12 Kepala keluarga yang terdampak banjir di Desa Muer dan 40 jiwa atau sekitar 253 jiwa di desa Brang kolong. Saat ini tim TRC juga sudah turun ke lokasi untuk pendistribusian logistik,” ucapnya.

Anto turut merincikan, di Desa Brang Kolong wilayah terdampak banjir berada di RT 001/RW 001 ada sekitar 44 KK atau 100 jiwa, RT 002/ RW 001 sekitar 24 KK atau 77 jiwa. RT 001 RW 002 sekitar 22 KK atau sekitar 56 jiwa dan RT 003/ RW 002 sebanyak 8 KK atau sekitar 20 jiwa.

“Logistik sudah mulai kita distribusikan kepada masyarakat yang terdampak terutama makanan dan selimut. Kami juga masih terus memantau kondisi terkini di lapangan,” ujarnya.

Ia meyakinkan, selain distribusi logistik pihaknya melakukan pengecekan serta menginventalisir total kerusakan akibat bencana tersebut. Data sementara total kerugian ditaksir mencapai angka puluhan juta, karena banyak barang elektronik masyarakat yang rusak.

“Kondisi saat ini hampir 80 persen rumah warga terendam dengan ketinggian paha orang dewasa di beberapa titik,” ucapnya.

Dikatakannya, bencana banjir di dua desa tersebut hampir kerap terjadi setap musim penghujan karena posisinya sangat rendah dan berada di pinggir sungai. Selain itu, terjadi penyempitan aliran sungai karena pembangunan di lokasi tersebut juga menjadi faktor lain.

“Tiidak ada korban jiwa saat banjir tersebut terjadi, penanganan awal juga akan segera kami lakukan terutama distribusi logistik bagi warga terdampak,” tukasnya. (hir/ils)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO