Mataram (suarantb.com) – Pemerintah Kecamatan Ampenan mengungkapkan Kelurahan Bintaro menjadi salah satu lokasi program Kelurahan Berdaya yang merupakan program strategis Pemerintah Provinsi NTB. Penunjukan tersebut dilakukan karena Bintaro tercatat sebagai wilayah dengan angka kemiskinan ekstrem tertinggi di Kota Mataram.
Selain ditetapkan sebagai Kelurahan Berdaya, kawasan yang mayoritas warganya bermukim di pesisir pantai itu juga tengah disiapkan program Koperasi Kampung Nelayan di Lingkungan Bintara Jaya. Program tersebut diharapkan mampu memperkuat perekonomian masyarakat sekaligus menekan angka kemiskinan.
Camat Ampenan, Muzakkir Walad, mengatakan data kemiskinan ekstrem tertinggi di wilayahnya memang berada di Kelurahan Bintaro. Namun, ia menilai angkanya saat ini mulai menunjukkan tren penurunan.
“Memang kampung nelayan yang sedang dibangun sekarang tujuannya juga untuk menekan angka kemiskinan,” ujarnya, Minggu (22/2/2026).
Berdasarkan data DTSEN, jumlah kepala keluarga (KK) di Kelurahan Bintaro dari kategori desil 1 sampai 10 tercatat sekitar 3.370 KK. Dari jumlah tersebut, sebanyak 534 KK masuk kategori desil 1 atau kemiskinan ekstrem. Namun, yang akan mendapatkan pendampingan melalui program desa/kelurahan berdaya dari Pemprov NTB sekitar 345 KK.
Muzakkir menjelaskan, faktor kemiskinan di wilayah tersebut tidak semata-mata disebabkan rendahnya pendapatan, tetapi juga dipengaruhi perilaku konsumtif, tingginya angka putus sekolah, serta lemahnya manajemen keuangan keluarga.
Karena itu, menurutnya, upaya memutus rantai kemiskinan tidak cukup hanya dengan bantuan program kesejahteraan. Pendampingan literasi keuangan keluarga dinilai penting sebagai langkah preventif agar masyarakat mampu mengelola pendapatan secara lebih bijak.
Ia menilai sebagian besar warga, terutama nelayan, sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang cukup baik. Dalam sekali melaut, seorang nelayan bisa memperoleh penghasilan hingga Rp1,5 juta. Namun, lemahnya pengelolaan keuangan membuat pendapatan tersebut tidak berkelanjutan.
“Sekali turun memancing atau melaut bisa mendapatkan Rp1,5 juta. Hanya saja, pengelolaan keuangan yang perlu kita benahi agar tidak habis untuk konsumsi sesaat,” jelasnya.
Muzakkir menambahkan, mayoritas warga Bintaro bekerja sebagai nelayan dengan penghasilan yang sangat bergantung pada hasil tangkapan dan kondisi cuaca. Saat cuaca ekstrem melanda, nelayan tidak bisa melaut sehingga tidak memiliki penghasilan.
Sementara itu, Lurah Bintaro, Rudy Herlambang, mengakui angka kemiskinan di wilayahnya memang paling tinggi di Kecamatan Ampenan sehingga menjadi prioritas dalam program Kelurahan Berdaya.
“Mudah-mudahan dengan adanya program ini bisa mendongkrak desil masyarakat kita ke kategori yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan data awal yang menggunakan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), jumlah warga miskin tercatat sekitar 1.600 KK. Setelah pembaruan data menjadi DTSEN, jumlah tersebut berkurang menjadi sekitar 500 KK, sehingga totalnya sekarang 1.100 KK.
Pemerintah kelurahan berharap melalui sinergi program Kelurahan Berdaya dan Koperasi Kampung Nelayan, kondisi sosial ekonomi masyarakat Bintaro dapat semakin membaik dan angka kemiskinan ekstrem terus ditekan secara bertahap. (pan)


