Giri Menang (suarantb.com) – Setahun masa pemerintahan Bupati Lobar, H. Lalu Ahmad Zaini bersama Wakil Bupati Hj. Nurul Adha, bukan waktu yang panjang. Namun cukup untuk membaca arah dan meletakkan fondasi pembangunan ke depan. Bupati LAZ-Wabup Adha pun mendapatkan apresiasi selama memimpin satu tahun ini, sementara dari kalangan Kades memberi catatan tentang berbagai aspek pembangunan terutama di daerah pelosok yang perlu mendapat perhatian kedepannya.
Wakil Ketua DPRD Lombok Barat, H. Abubakar Abdullah menilai kepemimpinan daerah saat ini telah meletakkan fondasi yang kuat bagi pembangunan berkelanjutan, terutama dalam pengembangan infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, arah kebijakan yang dijalankan telah menunjukkan komitmen nyata terhadap transformasi ekonomi daerah.
Ia menyebut, perubahan yang kini terlihat merupakan hasil dari perencanaan dan kerja pembangunan yang terstruktur.“Saya melihat kepemimpinan saat ini sudah meletakkan fondasi yang fundamental untuk membangun sistem pengembangan infrastruktur yang berkelanjutan, termasuk penguatan sumber daya manusia. Ini wujud komitmen melakukan transformasi dalam menumbuhkan sektor ekonomi menjadi nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan, perkembangan yang terjadi di Lombok Barat dalam beberapa tahun terakhir menjadi bukti konkret dari transformasi tersebut. Jika sebelumnya aktivitas ekonomi dan wajah kawasan ibu kota kabupaten belum tertata optimal, kini perubahan mulai terlihat signifikan.
“Dulu kita tidak bisa membayangkan transformasi aktivitas yang bisa menghidupkan Lombok Barat seperti sekarang. “Ini fakta bagaimana kemudian ibu kota ditata, infrastruktur pendukung pariwisata dibangun, dan ada komitmen yang luar biasa dari pemerintah daerah,” katanya.
Abu menilai, pembangunan infrastruktur yang terintegrasi dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi salah satu kunci dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi daerah. Penataan kawasan ibu kota serta dukungan terhadap destinasi wisata dinilai mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi pelaku usaha lokal dan masyarakat. “Ini fakta, bagaimana kemudian ibukota ditata, membangun infrastruktur pendukung wisata, dengan komitmen yang luar biasa,” ujarnya.
Sementara itu, Kades Guntur Macan Najamudin mengatakan bahwa masih banyak catatan terhadap pemerintahan Bupati dan Wabup yang baru memimpin satu tahun. Terutama perhatiannya terhadap daerah pelosok seperti desanya, dirasa masih minim bahkan belum ada.
Padahal, jika mengulas kembali bagiamana kisah perjalanan mulai kampanye, Bupati dan Wabup yang dulu akrab disebut LAZ-Adha pernah turun ke desanya. Bahkan masih segar di ingatan, ketika itu kendaraan yang ditumpangi oleh tim pasangan ini jatuh di akses jalan Poan Utara, karena kondisinya memang sempit, tidak layak.
Jalan itu sudah dirabat, namun tidak bisa diperlebar. Padahal sudah diusulkan beberapa kali ke Pemkab. Dari dulu ia berupaya bagiamana agar jalan ini bisa diperlebar supaya tidak membahayakan warganya. “Sudah satu tahun memimpin Lobar, desa kami belum disentuh, padahal waktu kampanye ke daerah kami sampai-sampai kendaraannya jatuh karena kondisi jalannya tak layak,” imbuhnya.
Terkait kepemimpinan satu tahun Bupati dan Wabup ini, pihaknya diminta oleh Camat untuk mengirim video tentang keberhasilan kepempimpinan Bupati dan Wabup, namun dirinya mengaku bingung mau menilai dari mana keberhasilannya.
Terutama yang dirasakan oleh masyarakatnya secara khusus dan wilayah Utara (Gunungsari) umumnya. Justru yang terjadi di era pemerintahan saat ini pengurangan ADD ke desa.
Bahkan, kata dia, jangankan memberikan perhatian dari sisi program penanganan infrastruktur yang banyak dikeluhkan warga, datang ke daerah itu saja kedua pimpinan daerah tersebut belum pernah ke desa itu. Namun rencananya Tim safari Ramadan Pemkab Lobar akan menjadwalkan turun ke desa itu pada tanggal 27 Februari. “Mudah-mudahan datang, karena selama ini tidak pernah ke guntur macan,” tegasnya.
Lebih lanjut, dikatakan, daerahnya membutuhkan penanganan dari sisi infrastruktur karena masih ada warga sakit harus ditandu menggunakan alat seadanya ke akses jalan besar. Namun ironisnya usulan penanganan jalan itu tidak bisa masuk, yang rencananya ditangani jembatan. Itupun ditangani dari lembaga, bukan dari pemerintah. Selain itu, beronjong sungai yang sangat dibutuhkan sepanjang lima kilometer. Beronjong sungai ini penting karena di atasnya ada pemukiman warga yang rawan tergerus.
Pihaknya beberapa kali mengusulkan ke Pemkab dan BWS, namun belum ada realisasi. “Dan kemarin-kemarin ini terjadi longsor, 10 meteran. Harapan kami itu ditangani, karena itu harapan masyarakat kami,” imbuhnya. Besar harapannya bisa diakomodir melalui program 1 miliar per desa, di dalamnya 100 juta per dusun. Ia sedikit mempertanyakan pergeseran program ini, dari sebelumnya 1 miliar per desa dan 100 juta per dusun, bergeser menjadi 1 miliar per desa dan di dalamnya 100 juta per dusun. (her)


