spot_img
Senin, Februari 23, 2026
spot_img
BerandaEKONOMIGundam dan Nostalgia: Ketika Hobi Lama Menjadi Sumber Bahagia

Gundam dan Nostalgia: Ketika Hobi Lama Menjadi Sumber Bahagia

 

Mataram (suarantb.com) – Di tengah geliat perdagangan di Kota Mataram, sebuah toko kecil berdiri sederhana. Sepintas, tempat itu tampak seperti toko mainan biasa. Namun, di balik rak-rak berisi replika anime, action figure, hingga model Gundam, tersimpan cerita tentang nostalgia, mimpi masa kecil, dan kebahagiaan yang akhirnya bisa diwujudkan.


Toko tersebut namanya Mataram Gundam, Jl. Transmigrasi, Monjok Timur, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Dirintis sejak 2017 oleh Ivan Prima Nugraha. Awalnya, Ivan tidak pernah membayangkan memiliki toko fisik. Usahanya berangkat dari hal sederhana, membantu teman dan komunitas yang ingin membeli mainan koleksi dari luar daerah. Aktivitas titip beli itu lambat laun berkembang menjadi usaha rumahan yang terus bertumbuh, hingga kini memiliki pelanggan tetap dari berbagai kalangan.


Ruangannya memang tidak besar, bahkan cenderung lengang. Namun justru di situlah daya tariknya. Toko ini kerap menjadi ruang berkumpul para pencinta hobi, tempat berbagi cerita, berdiskusi soal seri terbaru, hingga mengenang masa kecil yang dulu belum sempat terwujud.


Ivan menuturkan, segmen pasarnya tidak terbatas pada anak-anak. Banyak pembelinya adalah orang dewasa yang ingin “menghidupkan kembali” hobi lama. Tak jarang, mereka datang dengan target koleksi tertentu, tetapi akhirnya membeli lebih dari rencana awal karena dorongan nostalgia.
Produk yang paling diminati adalah replika dari serial Mobile Suit Gundam, disusul berbagai action figure karakter populer lainnya. Fenomena inilah yang melahirkan tagline unik toko tersebut, “Mainan bapak yang ngakunya untuk anak”.


Sebuah kalimat sederhana yang lahir dari pengalaman nyata. Banyak orang tua datang membeli mainan, bukan semata untuk anaknya, tetapi untuk memenuhi keinginan masa kecil yang dulu tertunda.


Secara bisnis, usaha ini mampu mencatat omzet kotor sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulan. Namun bagi Ivan, angka itu bukanlah tujuan utama. Ia lebih melihat usahanya sebagai ruang yang menghadirkan kebahagiaan melalui kenangan.


Menariknya, hobi merakit model Gundam juga membawa dampak positif. Beberapa pelanggan mengaku mulai mengurangi kebiasaan merokok demi menabung untuk membeli koleksi. Ada pula orang tua yang memanfaatkan proses perakitan sebagai sarana melatih kesabaran dan kreativitas anak. Bahkan, sebagian penggemar menilai aktivitas merakit mampu membantu remaja mengurangi ketergantungan terhadap gawai.


Di sudut Kota Mataram itu, mainan bukan lagi sekadar benda pajangan. Ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, menghidupkan kembali mimpi kecil yang dulu tertunda, satu per satu, melalui potongan plastik yang dirakit dengan penuh kesabaran. (bul)



IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO