Tanjung (suarantb.com) – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Lombok Utara (KLU) menilai sektor pertanian di Lombok Utara membutuhkan revitalisasi irigasi untuk meningkatkan daya dukung produksi pangan berkelanjutan. Hal ini tidak lepas dari potensi penambahan volume periode tanam, maupun sebaliknya, potensi ancaman berkurangnya produksi akibat hambatan teknis.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Lombok Utara, Tresnahadi, S.Pt., mengungkapkan jaringan irigasi lahan pertanian menjadi sangat penting di tengah tuntutan stabilitas produksi. Tidak sedikit areal yang harusnya menghasilkan bahan pangan, menjadi gagal produksi karena kendala kekurangan air akibat daya dukung irigasi yang tak optimal.
Ia mencontohkan, pada tahun 2025 lalu, sejumlah komoditas yang ditanam petani mengalami penurunan produktivitas hasil akibat penurunan jumlah areal panen.
“Dari data sementara luasan areal tanam yang tidak bisa dipanen sekitar 300 hektare. Petani se-KLU hanya bisa memanen 7.727,60 hektare dari total luas yang sudah ditanami mencapai 8.080 hektare,” ungkap Tresnahadi, Senin (23/2).
Penurunan jumlah areal terpanen juga terjadi pada tanaman jagung. Dibandingkan dengan jumlah tanam seluas 11.071 hektare, petani jagung di Lombok Utara hanya bisa memanen pada areal 9543 hektare. Artinya, kata Tresnahadi, petani kehilangan areal produksi jagung di lebih dari 1.500 hektare.
Selain dua kompsitas tersebut, Tresnahadi juga mencatat kegagalan produksi juga berlaku pada tanaman kacang hijau. Pada salah satu area uji coba petani di Kecamatan Gangga, kacang hijau yang dapat dipanen hanya 1 hektare dari 2 hektare areal tanam. Sedangkan pada data sementara areal tanam ubi kayu, data panen berlaku pada jumlah areal sekitar 244 hektar dari areal tanam 751 hektar.
Sebaliknya, pada salah satu komoditas yakni kacang tanah, terdapat jumlah panen yang melampaui jumlah tanam. Pada komoditas ini, jumlah lahan tanam mencapai 2.203,20 hektar, sedangkan lahan panen mencapai 2.293,70 hektar. Artinya, terdapat 90,5 hektar lahan tanam kacang tanah yang dibudidayakan pada lahan kering dapat berproduksi kendati daya dukung irigasinya minim.
“Untuk produktivitas petani sendiri, tertinggi di Kecamatan Bayan dengan angka produksi mencapai 16.300 ton lebih, disusul petani kecamatan Tanjung dengan angka produksi hampir 10 ribu ton,” ujarnya.
Dirinya berharap, angka produksi komoditas pertanian (umum) di Lombok Utara semakin membaik meskipun sarana dan prasarananya masih belum sesuai dengan harapan petani. (ari)


