Praya (suarantb.com) – Polres Lombok Tengah (Lombok Tengah) memutuskan menutup sementara salah satu jalur di jalur dua kawasan The Mandalika yang menuju Sirkuit Mandalika lantaran tergenang banjir. Mulai dari simpang gate 1 kawasan The Mandalika hingga jalur masuk menuju Novotel dan Pullman. Penutupan dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang diinginkan jika jalan tersebut dipaksakan untuk tetap dibuka.
“Penutupan jalur ini kita lakukan sejak kemarin. Setelah air meluap menggenangi jalan dampak dari tingginya intensitas hujan yang berlangsung sejak Minggu (22/2/2026) kemarin,” sebut Kasat Lantas Polres Loteng AKP Wulan Sucianur. S.Tr.K.,S.I.K.,M.Si., kepada Suara NTB, di Kawasan The Mandalika, Rabu (25/2/2026).
Pihaknya pun telah memasang road barrier untuk memberi tanda kalau jalan tersebut ditutup. Sehingga para pengguna jalan tidak sampai terjebak di jalur yang terkena banjir. Secara berkala, pihaknya juga akan melakukan patroli untuk memantau perkembangan dan situasi di lapangan.
“Koordinasi dengan pihak terkait seperti Balai Jalan maupun ITDC juga sudah kita lakukan. Untuk membantu penanganan banjir. Supaya air bisa segera surut. Sehingga jalan yang tergenang bisa kembali bisa dilalui,” imbuhnya.
Sampai saat ini pihaknya masih memberlakukan kebijakan dua lajur di salah satu jalur yang ada. Supaya masyarakat masih bisa lewat di jalan tersebut. Walaupun jalur tersebut juga ikut tergenang. Namun masih bisa dilalui kendaraan.
Tapi kalau kondisi genangan semakin memburuk, tidak menutup kemungkinan kedua jalur yang menuju Sirkuit Mandalika tersebut akan ditutup. “Semoga kondisi semakin membaik. Supaya kedua jalur ini tidak sampai kita tutup, “ ujarnya.
Wilayah Desa Kuta menjadi salah satu daerah yang paling parah diterjang banjir dampak dari cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) dalam beberapa hari terakhir. Setidaknya ada lima dusun yang terdampak banjir. Dengan jumlah rumah yang terkena banjir diperkirakan lebih dari seratus rumah.
Selain kondisi cuaca dengan intensitas tinggi, buruknya kondisi saluran drainase di kawasan wisata andalan tersebut disebut juga turut andil jadi pemicu banjir. Bagaimana tidak di semua wilayah yang terkena banjir, kondisi saluran drainase hampir semuanya tidak layak. Pesatnya laju pembangunan berbagai fasilitas pariwisata yang kurang memperhatikan ketersediaan saluran drainse kian memparah kondisi di lapangan.
Selain mengalami penyempitan, di sejumlah titik saluran drainase malah ditutup untuk mengakomodir pembangunan fasilitas pariwisata. Bahkan di beberapa lokasi lainnya tidak memiliki saluran drainase sama sekali.
“Ini yang kita temukan di lapangan,” ungkap Staf Ahli Bupati Loteng Lalu Sungkul, kepada Suara NTB saat meninjau lokasi banjir di Desa Kuta, Rabu (25/2/2026).
Kalau soal cuaca, sebut Sungkul, hujan dengan intensitas tinggi seperti sekarang ini bukan hal baru. Bahkan ini merupakan siklus lima tahunan yang sudah terjadi sejak dulu. Artinya, cuaca tidak berubah. Kondisi di lapangan yang berubah yang kemudian memperbesar potensi terjadinya banjir.
“Hasil lapangan ini akan segera kita sampaikan ke Bupati Loteng. Untuk nantinya bisa diambil kebijakan terkait penanganan ke depan. Supaya banjir seperti sekarang ini tidak terjadi lagi,” imbuhnya.
Untuk itu pihaknya mengingatkan kepada masyarakat termasuk investor yang membangun di wilayah Kuta dan sekitarnya agar benar-benar memperhatikan ketersediaan saluran drainase. Jangan sampai hanya membangun bangunan saja, sementara saluran drainase tidak dibangun. Pada akhirnya bisa memberi dampak buruk bagi lingkungan sekitar. “Salah satu dampaknya ya banjir ini,” tegas mantan Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Loteng ini.
Disinggung jumlah rumah terdampak banjir, Kepala Desa Kuta Mirate yang dihubungi di tempat yang sama mengaku belum bisa memprediksi. Yang jelas jumlah cukup banyak. Karena lokasi banjir menyebar di lima dusun. Di antaranya Dusun Mengalung, Merendeng, Baturiti hingga Dusun Rangkap. Dengan kondisi terakhir ada yang sudah tidak tergenang lagi. Ada juga yang masih tergenang sampai sekarang ini.
Ia pun mengakui buruknya kondisi saluran drainase menjadi salah satu pemicu terjadinya banjir. Selain karena memang instensitas hujan yang begitu tinggi sejak Minggu (22/2/2026). “Ya, karena itu juga (saluran drainase),” jawabnya.
Pihaknya berharap ada intervensi dari pemerintah daerah untuk membantu penanganan saluran drainase di wilayah Desa Kuta. Karena kalau mengandalkan anggaran desa tidak mampu. “Kita juga berharap peran serta investor untuk membantu mengantasi persoalan saluran drainase. Supaya bisa segera teratasi,” imbuhnya. (kir)


