spot_img
Kamis, Februari 26, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK TIMUR“Abnomal”, Harga Cabai Rawit Mahal di Sentra Produksi Nasional

“Abnomal”, Harga Cabai Rawit Mahal di Sentra Produksi Nasional

FENOMENA anomali harga cabai melanda Kabupaten Lombok Timur (Lotim), salah satu sentra produksi nasional. Di awal Februari 2026, bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, harga cabai di Lotim menembus angka Rp200 ribu per kilogram, melonjak drastis dari posisi sebelumnya yang berada di kisaran Rp100 ribu per kilogram. Situasi ini terbilang abnormal di tengah produksi sebenarnya melimpah, tetapi entah mengapa menjadi begitu mahal.

Lombok Timur selama ini dikenal sebagai lumbung cabai nasional. Kementerian Pertanian bahkan menetapkan daerah ini sebagai salah satu daerah yang memiliki champion cabai nasional. Dalam situasi normal, cabai asal Lombok Timur rutin dikirim ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Pasar Induk Kramat Jati Jakarta dan sejumlah pasar besar di kota-kota lain.

H. Subhan, champion cabai asal Lombok Timur, mengungkapkan bahwa biasanya ia mengirim 4 hingga 5 ton cabai per hari ke luar daerah. “Jumlah pengiriman per hari itu membuktikan bahwa produksi cabai di Lombok Timur cukup besar dan mampu menjadi penopang kebutuhan daerah lain,” ujarnya kepada Suara NTB.

Data Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur mencatat, luas lahan cabai mencapai 693 hektare dengan total produksi lebih dari 2.769 ton selama periode Oktober 2025 hingga Januari 2026. Kepala Dinas Pertanian, Fathul Kasturi, menyebutkan produktivitas cabai di daerah ini mencapai 39,7 kuintal per hektar. “Sebagian besar wilayah di Lombok Timur cocok untuk tanaman hortikultura ini. Tantangan terbesar adalah musim hujan yang dapat merusak tanaman,” jelasnya.

Namun, di balik tingginya produksi, harga cabai justru meroket. Lonjakan ini menempatkan Lombok Timur sebagai daerah dengan Indeks Perkembangan Harga (IPH) tertinggi.

Kepala Bagian Ekonomi Sekretariat Daerah Kabupaten Lombok Timur, Abdullah, membenarkan bahwa kenaikan harga cabai menjadi pemicu utama lonjakan IPH. Ia juga mencatat fenomena serupa terjadi di sentra produksi lain seperti Jawa Timur, meskipun Lombok Timur mengalami lonjakan paling tinggi. Kondisi ini disinyalir bisa memicu inflasi jika tidak segera diatasi.

Seolah menyalahkan cuaca, namun fakta anomali iklim ini dianggap bagian dari force majeure atau keadaan kahar atau memaksa yang tidak bisa dihindari menjadikan tanaman cabai tidak bisa produksi dengan baik.

Pemerintah Kabupaten Lombok Timur berupaya melakukan stabilisasi harga melalui pasar murah yang digelar bersama mitra champion cabai. Langkah ini diharapkan dapat menekan lonjakan harga dan menjaga daya beli masyarakat.

Meskipun harga tinggi seharusnya menguntungkan petani, kenyataan di lapangan berkata lain. Muhammad Ali Syahbana, petani cabai asal Desa Tirtanadi, Kecamatan Labuan Haji, mengungkapkan bahwa lonjakan harga justru membawa tantangan baru. “Setiap malam kami harus berjaga-jaga. Jika lengah, tanaman cabai bisa digasak oleh orang tidak bertanggung jawab,” keluhnya.

Menurut analisa bisnis para cabai, situasi ini sebenarnya bisa membuat petani kaya raya jika dalam kondisi normal. “Andai saja dengan harga sekarang, produksi bagus dan biaya produksi tidak begitu besar, maka petani bisa kaya,” katanya.

Biaya produksi sekarang turut melonjak hingga Rp120 juta per hektare. Bagi petani menanam di atas lahan hanya beberapa petak, pasti hanya akan mendapatkan harga tidak seberapa. Paling parah dari biaya itu adalah obat-obatan. Satu botol ukuran kecil harganya Rp150-300 ribu. Itu pun hanya dua sampai tiga kali pengaplikasian untuk melindungi tanaman dari kerontokan bunga.
Di samping itu, saat ini ancaman pencurian dan risiko cuaca membuat tidak semua petani bisa menikmati keuntungan tersebut.

Dengan segala potensi dan tantangan yang ada, Lombok Timur tetap menjadi salah satu kunci ketahanan pangan nasional. Pemerintah daerah berharap langkah stabilisasi harga dapat membawa kembali keseimbangan, baik bagi petani maupun konsumen. (rus)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO