Selong (suarantb.com) – Bupati Lombok Timur (Lotim), H. Haerul Warisin, mengimbau masyarakat agar memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk ditanami cabai rawit. Imbauan ini disampaikan menyusul tingginya harga cabai yang saat ini mencapai Rp150.000 hingga Rp160.000 per kilogram di pasaran.
“Jangan biarkan pekarangan nganggur. Silakan tanam cabai. Kalau harga lagi mahal, kita yang mengumpat, tapi petani kita justru sejahtera. Bayangkan, Rp160.000 per kilogram, itu luar biasa,” ujar Bupati saat Safari Ramadan di Rumbuk Timur Kecamatan Sakra, Kamis (26/2/2026) malam.
Orang nomor satu di Lombok Timur itu menyoroti dampak kenaikan harga cabai terhadap stabilitas ekonomi daerah. Ia mengingatkan bahwa selama ini Kabupaten Lombok Timur telah berhasil meraih berbagai penghargaan nasional berkat kemampuannya dalam menekan angka inflasi.
Kabupaten Lombok Timur (Lotim) menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara I TPAKD Award 2025 (Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah) untuk kategori kabupaten/kota terbaik wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Juada juga Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) terbaik untuk wilayah Nusa-Papua pada akhir November 2025
“Kita juara di Indonesia ini untuk Tim Perceptan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dan juara TP2DD,” tegasnya.
Namun, dengan melonjaknya harga cabai hingga Rp150.000 per kilogram, Haerul Warisin khawatir predikat tersebut akan hilang. “Tahu-tahu sekarang harga cabai kita Rp160.000, batal juara itu. Ini yang kita takutkan. Padahal, dengan predikat juara, kita mendapat insentif miliaran rupiah. Itu artinya prestasi ini harus kita pertahankan,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa cabai dan bawang merah merupakan dua komoditas yang sering memicu inflasi di daerah. Sementara itu, Lotim dikenal sebagai kabupaten penyangga pangan nasional dengan jumlah penduduk mencapai satu setengah juta jiwa.
“Kita ini kabupaten pertanian, tapi harga cabai mencapai Rp160.000. Malu kita. Untuk itu, saya minta kepada dinas terkait agar program tanam cabai ini digalakkan, termasuk dengan membagikan polibek dan bantuan lainnya. Semua sudah kita siapkan,” ujarnya.
Bupati berharap dengan memanfaatkan pekarangan, kebutuhan cabai di Lombok Timur dapat terpenuhi secara mandiri, sehingga harga tetap stabil meskipun di luar daerah harga melonjak tinggi.
“Kalau di luar harga sampai Rp200.000, tidak apa-apa. Tapi di Lombok Timur, kita tidak kekurangan. Petani bisa menjual ke luar daerah, sementara kebutuhan lokal tetap tercukupi,” pungkasnya. (rus)


