Sumbawa Besar (Suara NTB) – Pemkab Sumbawa, memastikan pembangunan bangunan Sekolah Rakyat (SR) definitif akan segera dikerjakan pemerintah pusat dengan total anggaran ditaksir mencapai Rp200 miliar. Proyek ini akan dikerjakan di Kecamatan Labuhan Badas.
“Lokasinya sudah disetujui dan dikonfirmasi dan lahan milik Pemkab di Badas itu siap digunakan untuk pembangunan SR dengan nilai proyek sekitar Rp200 miliar,” Kepala Bapperida Sumbawa, Dr. Deddy Heriwibowo, kepada wartawan, Jumat, 27 Februari 2026.
Deddy melanjutkan, pembangunan sekolah tersebut ditetapkan di atas lahan milik pemerintah daerah seluas 26 hektare di depan area Pertamina Badas. Dari total luasan tersebut, sekitar 5-6 hektare akan digunakan untuk pembangunan kompleks SR.
“Lahan tersebut sudah tidak ada persoalan lagi, karena sudah kita keluarkan dari status Kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KLP2B) yang sebelumnya menjadi kendala pengusulan,” ujarnya.
Menurutnya, proses tender pekerjaan direncanakan berlangsung pada April mendatang dan dilaksanakan pemerintah pusat. Jika berjalan sesuai jadwal, maka tahapan konstruksi diperkirakan mulai terlihat pada triwulan ketiga tahun ini.
“Perkiraan tender bulan April di pusat. Setelah itu masuk tahapan pembangunan sekitar triwulan ketiga dan kami berharap di awal tahun ajaran baru bangunannya sudah rampung,” ucapnya.
Disinggung terkait operasional sekolah tersebut, Deddy mengatakan pemerintah daerah masih menunggu kepastian apakah pemindahan kegiatan belajar mengajar dilakukan tahun ini atau tahun 2027. Sebagai langkah antisipasi, Pemkab Sumbawa telah menyiapkan skenario perpanjangan penggunaan fasilitas sementara di SMP Negeri 4 Sumbawa.
“Kalau belum bisa pindah tahun ini, maka penggunaan lokasi SMP 4 akan diperpanjang. Namun, harapan kita tahun depan sudah bisa beroperasi penuh di lokasi baru,” katanya.
Deddy pun meyakinkan, aktivitas Sekolah Rakyat Daerah (SRD) akan terpusat di lokasi baru, termasuk fasilitas asrama bagi para siswa. Konsepnya tetap sama dengan yang sudah berjalan saat ini, hanya berpindah ke kompleks yang lebih representatif dan terpadu.
“Semuanya akan bergabung di sana dan terpusat. Asrama juga di lokasi itu dan konsepnya tetap sama, satu sistem seperti sekolah yang ada saat ini,” tambahnya.
Gagasan SR sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto, yang menempatkan pendidikan sebagai instrumen utama memutus rantai kemiskinan. Program ini menyasar anak-anak dari keluarga kurang mampu, agar memperoleh akses pendidikan berkualitas dan berdaya saing.
“Filosofi program ini memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Anak-anak dari kelompok miskin harus mendapat pendidikan terbaik agar bisa bangkit dan mengubah masa depan mereka,” tukasnya. (ils)


