spot_img
Minggu, Maret 1, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK BARATWarga Tolak Penggunaan Karung Pasir untuk Jalan Darurat Buwun Mas, PU Khawatir...

Warga Tolak Penggunaan Karung Pasir untuk Jalan Darurat Buwun Mas, PU Khawatir Pemotongan Tebing Tambah Membahayakan

 

Giri Menang (suarantb.com) – Jalan darurat di Desa Taman Baru menuju Buwun Mas Kecamatan Sekotong Lombok Barat (Lobar) mulai dikerjakan Sabtu (28/2/2026). Namun dalam proses pengerjaan menuai kendala. Warga menolak penanganan menggunakan karung berisi pasir untuk menimbun jalan putus dan bambu sebagai penyangga. Lantaran khawatir jalan itu rusak lagi dengan risiko lebih fatal.


Di satu sisi permintaan warga membuka jalan darurat dengan memotong (Kepras) tebing atau bukit menambah tebing semakin curam sehingga dinilai lebih membahayakan lagi. Kepala desa Buwun Mas Rochidi mengatakan jalan putus itu hendak ditimbun menggunakan karung berisi pasir. Namun warga tidak setuju, karena khawatir ambruk lebih parah lagi.


Seperti penanganan darurat di jalan yang sama tahun lalu, menggunakan karung berisi pasir tidak bertahan lama. “Sehingga penggunaan karung pasir ini membuat warga justru khawatir, jalan itu ambruk lagi dan memakan korban jiwa. Kan yang kayak (penanganan darurat) tahun kemarin, kembali jalan itu ambruk. Tapi di lokasi sekarang ini sangat parah, tinggi amblasnya itu,” kata dia.


Ia mengatakan, bukannya warga tidak mau ditangani jalan itu oleh pemerintah, hanya saja kekhawatiran warga dengan cara itu justru tambah berbahaya dan tidak efektif.


Kaitan dengan penanganan ini telah dibahas oleh OPD dengan desa, mengingat darurat maka jalan itu harus segera bisa dilalui. Sedangkan untuk penanganan permanen akan dilakukan belakangan.


Dalam penanganan jalan darurat ini pun warga berharap dibuka dengan mengepras bukit di pinggir jalan yang longsor. Namun itu belum direkomendasikan oleh dinas terkait. Karena itu dari hasil musyawarah, pihak desa bersama warga pun melakukan gotong royong mengepras bukit menggunankan alat berat sebagai jalan darurat. “Kami perlebar di bagian jalan yang ambruk itu, supaya roda empat lewat,” ujarnya.


Sementara itu, Kabid Darurat dan Logistik pada BPBD Lombok Barat, Toni Hidayat mengatakan Pihaknya telah turun melakukan penanganan di lapangan, namun diberhentikan oleh warga. Sehingga pihak pelaksana dan tukang pun pulang. Pihaknya akan konsultasi lebih lanjut dengan PU terkait dengan geobag yang sudah disalurkan ke lokasi. Sebanyak 600 karung geobag disiapkan untuk penanganan jalan darurat itu. Namun belum semua yang dikirim ke lokasi.


Pemasangan geobag ini telah selesai dengan aturan penanganan darurat bencana BNPB. Bahkan, penanganan ini telah dibahas secara teknis. Jika menggunakan pola tertentu (buka lewat jalur lain) menurutnya hal itu dikhawatirkan tidak sesuai ketentuan dalam penanganan darurat. Yang jelas, Pemkab dalam hal ini BPBD telah berusaha responsif menangani jalan tersebut.


Terkait penanganan gotong royong secara swadaya oleh warga, pihaknya tak berwenang menjawab itu. Yang jelas, pihak BPBD bertugas menangani darurat mulai dari menyalurkan geobag dan pengadaan. Soal penanganan jalan darurat melalui tebing jalan itu, menurutnya hal ini telah disampaikan ke OPD terkait. Termasuk warga minta pinjam alat berat. Namun di BPBD tidak bisa, karena tidak ada dalam pengerjaan teknis. Yang ada hanya geobag dan bumbu, sesuai dengan aturan kedaruratan BNPB.


Belum lagi dari sisi risiko, tebing yang dipotong tersebut membahayakan. Dikhawatirkan jika hujan lama, perbukitan yang digerus dan perlu ada saluran pembuangan airnya.


Sementara itu, sebelumnya, Kepala Dinas PUPRPKP Lobar, Lalu Ratnawi mengatakan jalan darurat dengan mengepras bukit atau tebing di pinggir jalan itu berat karena dari sisi elevasinya tambah curam. “Kalau kepras tebing itu dia akan tambah curam tebing itu ke bawah,” tegas Ratnawi. (her)



IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO