Mataram (suarantb.com) – Komunitas Teman Baca menggelar diskusi buku dan pertunjukan wayang di Mataram, pada Sabtu (28/2/2026). Agenda ini diharapkan dapat mempertajam nalar kritis melalui analisa mendalam atas teks dalam buku serta memperkenalkan karya sastra dunia lewat medium wayang.
Agenda dimulai dengan pertunjukan wayang Kafka oleh dalang Sigit Susanto. Adapun cerita dalam pertunjukan wayang tersebut menyadur novelet “Metamorfosis” karya sastrawan dunia, Franz Kafka.
Pertunjukan wayang Kafka oleh dalang Sigit Susanto berlangsung khidmat. Pertunjukkan dibangun dengan nuansa gelap dan mencekam, seperti nuansa dalam novelet Metamorfosis.
Meski berasal dari negara berbeda, cerita yang dibangun melalui medium pewayangan ini tetap dapat dinikmati oleh penonton di Indonesia. Melalui tangan dingin Sigit, kompleksitas cerita Metamorfosis karya Kafka dapat disesuaikan melalui gerakan sederhana dan minimalis tokoh-tokoh wayang yang ditampilkan.
Pemilihan lagu pengiring hingga beberapa diksi pada dialog antartokoh juga disesuaikan dengan lagu dan bahasa Indonesia. Alhasil, cerita tidak saja dipahami tapi juga dapat dinikmati tanpa menghilangkan substansi cerita aslinya.
Hal ini sejalan dengan penjelasan Sigit saat diwawancarai, pada Sabtu (28/2/2026). Baik dialog maupun narasi dalam wayang yang dipentaskannya tidak sepenuhnya diambil secara mentah dari teks asli, melainkan hasil interpretasinya atas karya tersebut.
“Kalau narasi itu aku membuat sendiri. Tapi tidak jauh dari omongannya Kafka,” ujarnya.
Baginya, proses alihwahana karya sastra ke seni pertunjukan wayang tak terlalu sulit. Apalagi karya yang dialihwahanakan adalah karya Kafka yang merupakan penulis kegemarannya.
“Sebetulnya kalau Kafka itu adalah fesyen saya. Dari biografi dan karyanya saya sudah tahu,” tuturnya.
Melalui pertunjukan wayang Kafka ini, Sigit berharap masyarakat dapat mengenali karya sastra dunia. Khususnya karya-karya Kafka. Menurutnya, mempelajari karya sastra tidak mesti melalui medium teks pada buku, tetapi juga bisa melalui medium lain seperti wayang.
“Harapanku akan lebih banyak lagi wayang-wayang kontemporer yang mengangkat karya-karya sastra,” tandasnya.
Setelah sesi pertunjukan wayang usai, agenda berlanjut dengan sesi diskusi buku. Ada tiga karya yang diulas pada sesi diskusi buku di antaranya; Lintas Albania, Swiss, dan Negara Lain karya Sigit Susanto; Dalam Hologram Kafka karya Triyanto Triwikromo; dan (R)esensi Maniak karya Hernandi Tanzil.
Hadir sebagai pengulas yakni; penulis asal Mataram, Kiki Sulistyo; pendiri Komunitas Teman Baca, Dedy Ahmad Hermansyah; dan penulis perempuan asal Mataram, Iin Farliani.
Pendiri sekaligus pengelola Komunitas Teman Baca, Dedy Ahmad Hermansyah, mengatakan, agenda ini merupakan ikhtiar Komunitas Teman Baca untuk meramaikan gerakan literasi di NTB.
“Tujuan kami tidak lain tidak bukan yakni mengajak masyarakat, khususnya anggota kami untuk mengasah kembali nalar kritis dalam melihat persoalan dan fenomena yang ada,” jelasnya.
Ia berharap, kegiatan ini dapat memberikan khazanah baru serta dapat memantik semangat baru bagi gerakan literasi di mana pun berada. (sib)


