Mataram (Suara NTB) – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memperkuat langkah strategis dalam mencegah penyebaran paham radikalisme dan terorisme di daerah.
Ketua FKPT/BNPT NTB, Dr. H. Ruslan Abdul Gani, menegaskan bahwa penguatan sinergi lintas lembaga menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas dan ketahanan masyarakat dari pengaruh ideologi ekstrem.
Pada Minggu, 1 Maret 2026, ujarnya, FKPT NTB bersama seluruh jajaran pengurus melaksanakan rapat koordinasi dengan Badan Intelijen Negara Daerah (BINDA) dan Badan Intelijen Strategis (BAIS). Rapat tersebut bertujuan mempertajam sejumlah program kerja, menyelaraskan strategi, mengevaluasi pelaksanaan program pencegahan radikalisme-terorisme, serta menindaklanjuti arahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam memperkuat sinergi dan kolaborasi.
“Pencegahan radikalisme tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kerja bersama, deteksi dini yang kuat, serta pendekatan yang adaptif sesuai perkembangan zaman,” ujar mantan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) NTB ini.
Ia menjelaskan, rapat koordinasi kali ini memfokuskan pada beberapa program prioritas, di antaranya penguatan deteksi dini, penguatan wawasan kebangsaan, program literasi digital, serta pendekatan kebudayaan dan nilai-nilai kearifan lokal bagi generasi muda.
Menurutnya, program literasi digital menjadi salah satu langkah strategis di tengah derasnya arus informasi di ruang siber. Literasi digital tidak hanya sebatas kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga membekali masyarakat dengan pola pikir kritis, aman, dan efektif dalam memanfaatkan media digital.
“Literasi digital mencakup kemampuan menyaring informasi atau anti-hoaks, serta mendorong produktivitas dan kreativitas dalam kehidupan sehari-hari maupun profesional. Dengan budaya digital yang sehat, masyarakat akan lebih cerdas dalam berinteraksi di ruang digital dan tidak mudah terpapar paham radikal yang mengarah pada terorisme,” jelasnya.
Selain itu, penguatan kebudayaan dan kearifan lokal juga menjadi perhatian utama. Integrasi nilai budaya, seni, serta sejarah lokal ke dalam kurikulum pendidikan dan kegiatan masyarakat dinilai mampu memperkuat moderasi beragama, toleransi, dan kohesi sosial.
“Nilai gotong royong dan tradisi lokal adalah filter alami sekaligus fondasi ketahanan budaya (cultural resilience) terhadap radikalisme. Generasi muda perlu ditanamkan kebanggaan terhadap identitas lokalnya,” tambah Ruslan.
Program lainnya yang akan terus digencarkan adalah FKPT Goes to School/Campus. Program ini menyasar pelajar, mahasiswa, dan kalangan pemuda yang dinilai rentan disusupi paham intoleransi dan radikalisme.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan para pelajar dan mahasiswa memiliki ketahanan diri yang kuat, mampu berpikir kritis, serta tidak mudah terprovokasi oleh narasi ekstrem di media sosial maupun lingkungan sekitarnya.
FKPT NTB juga merencanakan kolaborasi lebih luas dengan berbagai instansi dan lembaga, baik pemerintah maupun swasta. Langkah ini dilakukan untuk menyamakan persepsi serta arah kebijakan strategis dalam pencegahan radikalisme dan terorisme agar pelaksanaan program menjadi lebih efektif dan efisien.
Rapat kerja tersebut ditutup dengan kegiatan buka puasa bersama dalam suasana penuh kebersamaan antara seluruh anggota FKPT NTB, BINDA, dan BAIS sebagai simbol soliditas dan komitmen bersama dalam menjaga NTB tetap aman dan kondusif. (ham)


