Mataram (suarantb.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram memastikan dan berkomitmen mempertahankan status nol kasus (zero case) penyakit campak melalui optimalisasi kegiatan imunisasi.
Komitmen tersebut disampaikan menyusul meningkatnya kasus campak di sejumlah kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mencapai ratusan kasus, bahkan di beberapa daerah telah berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfihan, menyampaikan bahwa hingga saat ini Kota Mataram masih berhasil mempertahankan status nol kasus campak.
“Alhamdulillah, di Mataram kasus campak masih bisa ditekan hingga nol kasus,” ujarnya, Kamis (6/2/2026).
Menurut Emirald, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari optimalisasi pelayanan imunisasi yang dilakukan secara masif di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk di 11 puskesmas yang tersebar di Kota Mataram.
Meski demikian, pihaknya mengakui masih terdapat beberapa titik wilayah yang sempat menunjukkan resistensi atau penolakan terhadap imunisasi. Namun, tenaga kesehatan terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat sekaligus memastikan pelayanan imunisasi tetap berjalan.
Ia menjelaskan, campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan termasuk dalam kelompok Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Penyakit ini memiliki risiko yang cukup berat, terutama bagi anak-anak, karena dapat menyerang sistem saraf hingga menyebabkan kematian.
“Oleh karena itu, kami memberikan atensi khusus pada setiap temuan kasus,” katanya.
Emirald menambahkan, munculnya satu kasus campak saja sudah dapat dikategorikan sebagai situasi darurat atau KLB. Karena itu, langkah-langkah preventif terus diperketat, salah satunya melalui edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kekebalan kelompok (herd immunity).
Selain itu, Dinkes Kota Mataram juga melakukan sosialisasi secara masif serta mengajak orang tua untuk aktif membawa anak ke posyandu atau puskesmas guna mendapatkan imunisasi.
Pihaknya juga menerapkan sistem skrining dan pendataan bayi yang baru lahir agar langsung masuk dalam data sasaran imunisasi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada anak yang terlewat dari program imunisasi.
Bahkan, untuk memastikan cakupan imunisasi tetap optimal, Dinkes menerapkan sistem pemantauan ketat. Jika terdapat anak yang terdata tetapi belum mendapatkan imunisasi, tim akan melakukan “sweeping” atau penjemputan langsung ke lapangan. (pan)

