Mataram (suarantb.com) – Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menemukan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) kasus campak di NTB. Kurang dari dua bulan, ditemukan sebanyak 985 kasus campak di tiga wilayah di NTB, yaitu Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Dompu.
Kepala Dinkes KB NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MARS., mengungkapkan, peningkatan kasus dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain masih adanya kelompok anak yang belum mendapatkan imunisasi campak rubela (MR) lengkap. Fluktuasi cakupan imunisasi rutin yang belum optimal dalam beberapa tahun terakhir juga membuka akumulasi populasi rentan.
“Selain itu tingginya mobilitas penduduk pada akhir dan awal tahun, keterlambatan deteksi dan respons awal, serta faktor lingkungan dan perilaku menjadi penyebab peningkatan kasus,” ujarnya, Kamis, 12 Maret 2026.
Kasus didominasi oleh anak usia di bawah 5 tahun, dengan sebagian besar kasus terjadi pada anak dengan status imunisasi tidak lengkap atau belum pernah diimunisasi. Hal ini menunjukkan rendahnya cakupan imunisasi menjadi faktor risiko utama terjadinya KLB.
Pemerintah Provinsi NTB bersama pemerintah kabupaten/kota telah mengambil langkah dengan melakukan penguatan surveilans aktif dan pelacakan kontak di tingkat desa dan puskesmas, pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) pada seluruh puskesmas di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu, dengan prioritas ORI diberikan bagi bayi dan balita berusia 9 sampai dengan 59 bulan.
“Langkah penanganan juga dilakukan dengan pemberian vitamin A pada kasus campak untuk mencegah komplikasi dan menurunkan risiko kematian, penguatan edukasi masyarakat mengenai gejala campak,” sambungnya.
Perlu juga imunisasi lengkap, dan segera berobat ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala demam disertai batuk/pilek dan ruam, menjamin ketersediaan logistik KLB, termasuk vaksin, vitamin A, serta dukungan tata laksana klinis di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).
Termasuk penguatan triase isolasi campak di fasyankes yang fokus pada pemisahan cepat suspek (demam, ruam, batuk/pilek) di IGD/rawat jalan, penyediaan area isolasi khusus (infeksius/pediatri), serta penanganan segera pasien dengan komplikasi (sesak/diare/sulit makan) untuk mencegah penularan intensif, terutama saat lonjakan kasus/KLB.
Pemerintah Provinsi NTB terus melakukan monitoring dan evaluasi berkala hingga situasi dinyatakan terkendali.
“Masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada, serta berperan aktif dalam memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal guna memutus rantai penularan campak,” pungkasnya. (era)

