Jumat, Maret 13, 2026

BerandaPENDIDIKANKuliah Pakar Ummat, Prof. Oji dan Dr. Aka Bahas Etika Informasi di...

Kuliah Pakar Ummat, Prof. Oji dan Dr. Aka Bahas Etika Informasi di Era Digital


Mataram (suarantb.com) — Di tengah derasnya arus informasi digital yang semakin cepat dan tanpa batas, kualitas informasi publik menjadi tantangan penting bagi masyarakat modern. Dalam situasi tersebut, etika komunikasi dan kemampuan memverifikasi informasi menjadi fondasi utama untuk menjaga ruang publik yang sehat.


Isu tersebut mengemuka dalam kegiatan Kuliah Pakar dan Festival Ramadan 1447 Hijriah yang diselenggarakan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat), Kamis (12/3/2026).


Kegiatan yang dirangkaikan dengan program Lentera Ramadan ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Pakar Komunikasi Dakwah Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi, M.A. dan Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi NTB sekaligus Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB Dr. H. Ahsanul Khalik, S.Sos., M.H.


Kuliah pakar tersebut diikuti oleh pimpinan universitas, dosen Fakultas Agama Islam, serta mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam yang mengikuti kegiatan sebagai bagian dari penguatan perspektif akademik di bidang komunikasi dakwah dan media digital.


Dalam pemaparannya, Prof. Oji sapaan akrab Prof. Fahrurrazi menjelaskan bahwa perkembangan teknologi komunikasi telah membawa perubahan besar dalam metode penyampaian dakwah. Jika sebelumnya dakwah lebih banyak berlangsung di ruang-ruang fisik seperti mimbar masjid atau majelis taklim, kini ruang digital menjadi medium baru yang sangat luas.


Menurutnya, media sosial dan platform digital memungkinkan pesan keagamaan menjangkau masyarakat secara lebih luas dan lintas wilayah.


“Perkembangan media digital membuka peluang besar bagi dakwah Islam untuk menjangkau generasi muda. Namun pesan dakwah tetap harus disampaikan dengan pendekatan yang bijak serta memperhatikan etika komunikasi,” ujarnya.


Ia menegaskan bahwa literasi media menjadi kemampuan penting bagi para komunikator dakwah agar pesan yang disampaikan tidak sekadar viral, tetapi juga membawa nilai kebenaran dan kemaslahatan.


Sementara itu, Dr. Ahsanul Khalik menyoroti tantangan komunikasi publik di era yang sering disebut sebagai ledakan informasi. Dalam kondisi tersebut, hampir setiap individu dapat menjadi produsen informasi melalui media digital.

Menurutnya, perkembangan tersebut membawa dua sisi sekaligus: membuka peluang besar bagi penyebaran pengetahuan, namun juga menghadirkan risiko meningkatnya hoaks, manipulasi opini publik, serta polarisasi sosial.


“Perkembangan teknologi membuat informasi bergerak sangat cepat. Namun kecepatan itu harus diimbangi dengan kualitas dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi,” jelas Dr. Aka sapaan akrabnya.


Dalam perspektif Islam, kata Aka, komunikasi publik memiliki fondasi etika yang kuat melalui prinsip tabayyun, yaitu kewajiban memverifikasi informasi sebelum disebarkan kepada masyarakat.


Ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 yang menegaskan pentingnya memeriksa kebenaran suatu berita agar tidak menimbulkan kesalahan informasi yang merugikan masyarakat.
Menurutnya, prinsip tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat dengan praktik jurnalistik modern yang menekankan verifikasi fakta sebelum sebuah informasi dipublikasikan.


“Dalam tradisi keilmuan Islam, verifikasi informasi telah lama menjadi bagian penting dalam menjaga keabsahan pengetahuan, terutama dalam metodologi ilmu hadis yang mengembangkan sistem pengujian kredibilitas informasi secara sangat ketat. Ini menunjukkan bahwa etika informasi merupakan bagian dari fondasi peradaban,” tegasnya.


Dalam kesempatan tersebut, Aka juga menekankan peran strategis mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam sebagai generasi komunikator masa depan yang mampu memadukan kecakapan teknologi dengan integritas moral.


Mahasiswa, menurutnya, dapat mengambil peran sebagai agen literasi digital melalui produksi konten edukatif, dakwah digital, serta edukasi masyarakat mengenai pentingnya memverifikasi informasi di tengah arus media sosial.


Ia juga menilai bahwa NTB memiliki modal sosial keagamaan yang kuat untuk membangun komunikasi publik yang beretika di tengah transformasi digital.


“Masjid, pesantren, perguruan tinggi, serta komunitas media dapat menjadi pusat penguatan literasi informasi yang sehat bagi masyarakat,” ujarnya.


Melalui kegiatan kuliah pakar ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori komunikasi dakwah, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai etika komunikasi dalam praktik media digital di tengah dinamika perkembangan teknologi informasi.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi bahwa komunikasi pada akhirnya bukan sekedar aktivitas menyampaikan pesan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dalam menjaga kualitas informasi dan membangun peradaban komunikasi yang lebih beradab. (r)

IKLAN Ucapan Selamat Pelantikan Rektor Baru UNRAM
RELATED ARTICLES
IKLAN
Ucapan Selamat Pelantikan Rektor Baru UNRAM




VIDEO