Tanjung (suarantb.com) – Toleransi antar-umat beragama kembali ditunjukkan oleh masyarakat lintas agama di Lombok Utara. Pada momen bulan Ramadan ini, umat Buddha dari sejumlah Vihara di bawah asosiasi Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) KLU, turun ke jalan membagikan takjil Ramadan berupa kelapa muda.
Momen tersebut berlangsung pada Minggu (15/3/2026). Pembagian takjil KBTI, mendapat dukungan dari Pemda Lombok Utara, Polres Lombok Utara serta tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Sekretaris Daerah KLU, Sahabudin, S.Sos., M.Si., mengungkapkan bakti sosial pembagian takjil tidak hanya mencerminkan kepekaan sosial antar-warga. Lebih dari itu, momen ini menunjukkan kuatnya toleransi dan kebersamaan antar umat beragama. Sebab, umat Buddha yang tidak menjalankan puasa ikut hadir menyiapkan menu berbuka bagi umat Muslim meskipun dalam bentuk kelapa muda.
“Kegiatan semacam ini menjadi pemantik untuk memperkuat nilai toleransi di tengah kehidupan masyarakat. Ketika kita ingin terus bersama sebagai satu masyarakat, maka salah satu pilar utamanya adalah toleransi, tetapi bersatu meski dalam perbedaan (keyakinan)” ungkap Sahabudin.
Menurutnya, toleransi antar-umat beragama di Lombok Utara sudah terpelihara dengan baik sejak zaman dulu. Masyarakat dengan latar belakang agama yang berbeda, dapat berbaur dan menjalani kehidupan sosial secara aman dan damai. Karena itu, menurut Sekda, kebersamaan yang sudah dipelihara dan diwariskan oleh leluhur, sedapat mungkin dijaga dengan aktualisasi dan implementasi semangat kebersamaan.
Untuk diketahui, pada pembagian takjil kelapa muda, sekitar 3.150 butir kelapa muda dibagikan kepada masyarakat. Setiap pengguna jalan yang melintas di ruas jalan protokol Tanjung, diberikan masing-masing sebutir kelapa muda. Kegiatan sosial tahun ini, diikuti oleh ratusan umat Buddha dari 32 vihara di Kabupaten Lombok Utara.
Ketua KBTI Kabupaten Lombok Utara, Surdianto, mengungkapkan kegiatan berbagi takjil merupakan agenda rutin yang dilakukan setiap tahun. Bakto sosial tersebut sebagai bentuk kepedulian antar warga Lombok Utara yang bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai toleransi dan kebersamaan bermasyarakat.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi umat Buddha untuk menumbuhkan semangat berbagi serta menjaga harmoni sosial di Lombok Utara.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa kebersamaan dan toleransi harus terus dijaga. Ini bukan hanya tentang berbagi takjil, tetapi tentang merawat nilai saling menghargai di tengah keberagaman,” demikian Surdianto. (ari)

